Akhlak Mulia

Nabi bersabda:

“Orang yang paling mulia imannya adalah yang paling mulia akhlaknya.”

Nabi bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Al Bukhari)

Akhlak mulia mencakup aspek hablun minallah (hubungan hamba dengan Allah) dan hablun minannaas (hubungan sesama manusia).

Akhlak mulia terangkum dalam ketundukan dan ketakwaan kepada Allah kapan dan dimanapun berada sehingga menimbulkan rasa malu sekaligus takut kepada Allah, sikap santun dan lemah lembut terhadap sesama makhluk sehingga menimbulkan rasa saling menghormati dan menjaga hak-hak sesama, serta menjaga kehormatan diri dengan nilai-nilai Islam yang luhur sehingga melahirkan pribadi yang terhormat lagi mulia.

Syaikh Ibnu Sa’di mengatakan: “Akhlak mulia adalah akhlak yang utama dan agung. Ia dibangun atas kesabaran, kelembutan, dan kecenderungan pada perangai-perangai yang terpuji. Akhlak ini akan melahirkan sifat mudah memaafkan, mampu bersikap toleran terhadap kekeliruan orang lain, dan senang berbagi manfaat dengan sesama. Akhlak terpuji terwujud pula dengan kesabaran dalam menghadapi berbagai kejahatan orang lain, memaafkan kekeliruan sesama, dan membalas keburukan mereka dengan kebaikan.”

Salah seorang penyair berkata: “Orang yang berakhlak baik, akan memiliki banyak teman dan sedikit musuh. Perkara yang sulit akan mudah baginya, dan hati yang keras akan melunak terhadapnya.”

Allah berfirman:

“….Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertututr katalah yang baik kepada manusia….” (QS. Al Baqarah : 83)

Allah berfirman:

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf :199)

Rasulullah bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Dan orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah bersabda:

“Orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling bagus akhlaknya, paling lapang jiwanya, serta mudah menerima orang lain dan mudah diterima orang lain. Sedangkan orang yang paling aku benci adalah yang suka mengadu domba, memutuskan hubungan di antara orang-orang yang saling mencintai, dan mencari-cari kesalahan orang yang tidak bersalah.” (HR. Ath-Thabrani)

Rasulullah bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menutupinya, dan bermuamalahlah kepada manusia dengan akhlak yang mulia.”(HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah bersabda:

“Istiqamahlah (di atas agama Allah) dan baguskanlah akhlakmu terhadap sesama manusia.” (HR. Al-Hakim)

Suatu ketika, Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam Surga, lalu beliau menjawab:”Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia.” Dan ketika ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam Neraka, beliau menjawab:”Mulut dan kemaluan.” (HR. Ahmad)

Empat Pilar Akhlak Mulia

  1. Sabar (mampu menahan amarah, tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu, tahan banting, lemah lembut)
  2. Ifah (menjaga kesucian diri, malu, menghindari perbuatan keji, dusta, kikir, menggunjing, mengadu domba)
  3. Berani (memiliki mental kuat menegakkan akhlak mulia, jiwa yang tegas, kemampuan melawan hawa nafsu)
  4. Adil (mengasah lurusnya perangai, menajamkan intuisi dalam memilah antara sikap berlebihan dan menggampangkan, menjaga sifat berani agar tetap dalam koridornya, yaitu antara pengecut dan nekat)

Empat Pilar Akhlak Tercela

  1. Bodoh (tidak bisa membedakan kebaikan dan keburukan)
  2. Dzalim (meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya: sikap keliru dalam berbagai situasi)
  3. Memperturutkan hawa nafsu (hasrat untu memiliki sesuatu secara berlebihan, kikir, tidak mampu menjaga kesucian diri, tidak dapat menguasai diri, hanyut oleh hawa nafsu)
  4. Mudah marah (mendorong sikap congkak, suka mendengki, mudah menyulut api permusuhan dan persengketaan, serta gampang bertindak tanpa perhitungan matang)

Suatu ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad, lalu dia menjawab:”Akhlak beliau adalah Al-Quran.” (HR. Muslim)

Allah berfirman:

“Sungguh, Al-Quran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus…” (QS. Al-Isra’: 9)

“(Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar….” (QS. Al-Jinn : 2)

“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 2)

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)

Siapa saja yang ingin menghiasi dirinya dengan akhlak mulia harus memperhatikan akhlak Nabi, lalu bersungguh-sungguh meneladaninya.

Ibnul Qayyim mengatakan: “Dalam diri Muhammad terdapat perpaduan antara ketakwaan kepada Allah dan budi pekerti luhur. ketakwaan akan memperbaiki hubungan hamba dengan Rabbnya, sedangkan akhlak mulia akan memperbaiki hubungannya dengan sesama. Jadi, takwa ini akan melahirkan kecintaan Allah kepada dirinya, dan akhlak mulia akan memunculkan kecintaan manusia terhadapnya.” (Al-Fawaid hlm.75)

Ibnu Umar menegaskan bahwa:“Rasulullah tidak pernah berkata kotor, berbuat keji, atau berpura-pura, sekadar untuk membuat orang lain tertawa.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Akhlak Mulia

  1. Wujud ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
  2. Pintu meraih cinta Allah dan Rasul-Nya
  3. Sarana untuk menghapus dosa
  4. Cara untuk meraih ampunan Allah
  5. Salah satu amalan terbaik
  6. Mengantarkan pada derajat hamba yang senantiasa berpuasa dan mendirikan shalat malam
  7. Mendekatkan hamba dengan Rasulullah di Surga
  8. Jalan menuju kenikmatan Surga
  9. Salah satu amal yang paling berat timbangannya
  10. Menambah dan menyempurnakan keimanan
  11. Menjadi hamba yang terbaik
  12. Penghalang dari jilatan api neraka
  13. Mendapat jaminan sebuah rumah di bagian atas Surga
  14. Menolak bala dan hal-hal yang tidak diinginkan
  15. Mudah berinteraksi dengan orang lain
  16. Membantu memperbaiki hubungan sesama manusia
  17. Memperluas persahabatan dan memperkecil permusuhan
  18. Mengubah lawan menjadi kawan
  19. Nafkah bagi hati
  20. Menjadi buah tutur yang baik
  21. Selamat dari kejahatan makhluk
  22. Memakmurkan negeri dan menambah umur
  23. Membuka pintu ilmu
  24. Mendamaikan dua pihak yang bertikai
  25. Menutupi aib yang ada
  26. Melahirkan perasaan lapang dan kehidupan yang baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s