Cerita Jilbab Pertamaku

Hari ini aku menuliskan bagian dari kisah hidupku yang mengantarkan diriku untuk mantap berjilbab. Sebenarnya aku ingin menuliskan sejak lama, namun baru terlaksana saat ini. Aku mulai dengan sedikit menggambarkan karakterku sewaktu kecil. Aku sewaktu kecil lebih banyak diam dan lebih banyak mikir. Berbeda denganku yang sekarang yang cenderung lebih banyak ngomong dan sedikit mikir (perangai buruk yang harus segera diperbaiki…hehe). Rasa penasaran sudah muncul dari aku kecil, yang pernah aku tuliskan pada artikel sebelumnya. Aku dari kecil sering mikir dan bertanya-tanya tentang Sang Pencipta yaitu Allah, kenapa aku diciptakan, apa yang terjadi setelah aku mati, dan sebagainya. Jawaban-jawaban pertanyaan itu akhirnya aku temukan satu persatu.

Sampai pada suatu ketika muncul pertanyaan tentang jilbab. Aku sangat penasaran ketika aku kecil ketika aku melihat ada sebagian kecil muslimah memakai jilbab tetapi banyak sekali yang tidak memakai jilbab. Aku selalu bertanya-tanya, apa hukum memakai jilbab, kenapa ada yang memakai dan ada yang tidak. Pertanyaan itu hinggap di kepalaku sejak aku SD. Aku tidak bisa mendapatkan jawaban dari orang tuaku, keluargaku, maupun tetanggaku karena pengetahuan agama mereka sangat kurang. Aku datangi tetanggaku yang rajin sholat ke masjid dan dia menjawab bahwa jilbab itu hukumnya sunnah. Guru agama ditempatku malah mengatakan bahwa jilbab itu bukan kewajiban muslimah dan menganggapnya hanya sebagai “style” muslimah.  Tentunya itu adalah pemahaman yang batil. Tapi saat itu aku masih kecil dan aku membungkus jawaban itu (anggapanku benar) karena aku sendiri tidak paham. Sampai akhirnya tahun berganti dan ternyata aku masih penasaran dengan hukum memakai jilbab karena aku mendapatkan ketidakpuasan dari jawaban mereka (tidak ada dalil yang mereka sampaikan). Sampai beberapa tahun kemudian, aku tanyakan lagi kepada tetanggaku yang lain, yang aku lihat pemahaman agamanya lumayan bagus (kebetulan dia juga saat itu mulai mendalami Islam). Akhirnya usahaku berhasil. Aku mendapatkan jawaban darinya bahwa jilbab itu wajib hukumnya bagi muslimah. Dia memberikan buku kecil tentang dalil memakai jilbab. Aku mulai membaca dan memahami dalil tentang wajibnya jilbab bagi muslimah.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu & isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. & Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(QS an-Nur : 31)

Setelah mendapatkan dalil wajibnya jilbab bagi setiap muslimah, maka keinginanku untuk memakai jilbab muncul. Keinginan memakai jilbab muncul pertama kali saat aku kelas 3 SMP. Di SMP tersebut, yang aku tau hanya ada 2 siswi yang memakai jilbab dan mereka berasal dari keluarga yang agamis. Namun saat itu aku punya kesulitan untuk mengutarakan niat memakai jilbab kepada orang tuaku. Aku masih diam dan menunggu moment untuk mengutarakan niatku memakai jilbab. Selepas aku lulus dari SMP dan mau memasuki SMA, aku berbicara kepada orang tuaku tentang keinginanku memakai jilbab, akan tetapi mereka tidak menyetujui. Ayahku saat itu tidak mendukungku karena ayah tidak sepaham dengan keyakinan bahwa jilbab itu wajib dipakai muslimah, aku masih terlalu muda untuk memakai jilbab dan beliau takut jika aku berjilbab akan membawa dampak buruk buat masa depanku. Aku sedih sekali saat itu karena banyak yang tidak mendukungku, apalagi pemahaman aku dan ayahku yang sangat bertolak belakang sering membuat aku dan ayah berdebat panjang.

Akhirnya aku mencari ide dan cara agar mereka menyetujui keinginanku untuk berjilbab. Menjelang berakhir semester 1 kelas 1 SMA, aku berbicara kepada orang tuaku, aku meminta hadiah dari ayah ibu jikalau aku bisa meraih rangking 1 di SMA walaupun memang saat itu aku tau seperti tidak ada harapan buat aku rangking 1 karena banyak yang pintar-pintar di SMA itu. Aku bilang, “Bu, Pak kalau aku dapat rangking 1, aku mau bapak ibu mengabulkan permintaanku ya, aku mau pakai jilbab”. Aku terus berdoa sama Allah semoga aku bisa memakai jilbab.

Sampailah saat yang aku tunggu-tunggu tiba. Pagi itu aku dan ayahku pergi ke SMA untuk mengambil raportku. Aku deg-degan, “apakah aku bisa merealisasikan keinginanku“, gumanku dalam hati. Ternyata pagi itu adalah pagi yang membahagiakan buat aku karena Allah menjawab doaku selama ini. Alhamdulillah aku mampu meraih rangking 1. Saat itu juga aku menagih janji ayahku untuk menyetujuiku berjilbab. Ayahku kemudian membelikan kain untuk baju seragam panjangku dan jilbab untukku di Toko Baru, Wonogiri setelah kami mengambil raport. Aku tau saat itu adalah hal yang berat buat ayah ibuku menerima keputusanku berjilbab. Tapi aku rasakan begitu bahagia karena jilbab inilah hadiah terindah dari orang tuaku setelah aku bisa memenuhi target yang mereka inginkan. Aku senang dan bahagia sekali. Doa-doaku dikabulkan sama Allah. Baju seragam dan jilbabku dijahit sendiri sama ayahku. Terima kasih Allah, terima kasih ayah ibu. Kelas 1 semester 2 SMA, untuk pertama kalinya aku memakai jilbab.

Masih ada sampai sekarang catatan kebahagiaanku yang aku tuliskan sewaktu pertama kali pakai jilbab. Kebahagiaan karena aku mendapatkan hidayah dari Allah. Kebahagiaan karena aku mampu mewujudkan cita-citaku memakai jilbab. Kebahagiaan karena ayah ibuku mau mengabulkan keinginanku berjilbab. Terima kasih.

-Catatan Masa SMA, Januari 2004-

20140407_124449

Bismillahirrahmanirrahim
Kini….aku benar-benar telah mendapatkan sinar cahayanya, serta hidayahnya hingga membuat mata dan hatiku terbuka. Sudah kuputuskan di semester 2 nanti yaitu bulan Februari aku akan memakai jilbab. Mungkin itu terbaik bagiku. Aku sangat bersyukur aku telah berhasil melewati berbagai cobaan hidup dan mungkin dengan berjilbab aku bisa lebih mudah mewujudkan impianku. Dengan ini semua aku ingin menjalani hidup ini dengan hati yang bersih dan menjadi hamba Allah yang benar-benar bertaqwa. Aamiin.
Hari ini aku masuk pertama kali di semester 2 ini. Mungkin hari ini aku mulai memasuki dunia baru, membuka lembaran baru, dengan penampilan yang baru. Aku bisa membayangkan pasti teman-temanku akan kaget melihatku. Tapi aku sudah siap atas apa yang akan terjadi nanti.
Pukul 06.45 aku masuk sekolah dan memasuki kelas baruku. Saat itu teman-temanku kaget melihatku. Tapi mereka mengucapkan selamat padaku. Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi semua, bagi Allah, keluargaku serta teman-temanku.
I hope I can….
Kebahagiaan datang lagi ketika 1 semester setelah aku memakai jilbab, tepatnya pertengahan tahun 2004, ibuku yang sebelumnya tidak berpikir untuk memakai jilbab akhirnya beliau memantapkan diri untuk mengenakan jilbab. Dan tahun 2013 kemarin, memasuki kelas 2 SMA, adikku juga mantap berjilbab. Sahabat terdekatku sewaktu SMA yang sering bersama denganku juga memakai jilbab beberapa waktu setelah aku memakai jilbab. Hidayah dari Allah datang kepada ibu, sahabat dan adikku. Alhamdulillah.
Walaupun dalam perjalanannya, keputusanku memakai jilbab ini menuai banyak kritik dari keluarga dan tetangga sekitarku namun aku bersyukur karena Allah selalu menjaga diriku sampai saat ini. Dan semakin lama keluarga, saudara dan tetanggaku juga mendapat hidayah untuk memakai jilbab termasuk beberapa orang yang sebelumnya mengkritik keputusanku berjilbab. Alhamdulillah. Seperti telah diberi air ketika berada di padang pasir nan panas, begitulah kenikmatan hidayah Allah yang aku rasakan. Aku bersyukur karena Allah memberi petujuk, kemudahan di setiap kesulitan yang aku hadapi. Begitulah kisahku memakai jilbab dan sampai saat ini aku masih terus berusaha menjadi muslimah yang baik. Semoga aku bisa. Aamiin…

6 thoughts on “Cerita Jilbab Pertamaku

  1. Iya Fin…aku inget…kita masih di kelas 1.7 ya….hehe… iya, Fin…saling support ya Fin….semoga kita selalu bisa istiqomah ya Fin…Aamiin…miss you Fin….:-)

  2. Aku baca kisah kamu sampai nangis , berbeda sama kmu aku terlahir dikeluarga yg cukup agamis , hampir semua keluarga besarku pakai hijab . Tapi aku belum , dulu pernah pakai hijab tapi aku buka karena dulu aku pakai hijab maksudnya cuma buat coba”.
    doain aku ya semoga terketuk hati untuk memantapkan diri pakai hijab sampai akhir hayat . Terima kasih kisahnya ,

  3. iya Sachiko, semangat ya….semoga Allah selalu memberi kemudahan pada kita…aku doakan semoga km bisa mantap pakai jilbab sampai akhir hayat…aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s