Jika Pernikahan Berbuah Derita

Rumah tangga atau pernikahan bukan penjara siksaan baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sepatutnya dibina atas cinta dan kebahagiaan, bukan kebencian dan permusuhan. Jika kebencian dan permusuhan memegang kendali, maka tiada artinya lagi suatu perkawinan diteruskan. Justru lebih mengundang dosa daripada pahala. Akan merusak jiwa dan ketentraman perasaan.

Hidup bukan sekedar untuk bergulat dengan masalah rumah tangga semata, sehingga melalaikan dari tujuan hidup yang sebenarnya. Untuk itu, Islam mensyariatkan talak dan beberapa jalan lain seperti khulu’ (menebus diri) dan fasakh (tuntut cerai) dengan tujuan membolehkan seseorang keluar dari neraka kehidupan dan mencari ketentraman yang baru. Islam tidak seperti beberapa agama yang menganggap pernikahan itu harus abadi dan tidak ada jalan keluar lagi meskipun harus hidup mengunyah derita.

Pemikiran beberapa masyarakat Islam bahwa perceraian itu semuanya buruk adalah tidak benar. Cerai adakalanya disuruh dalam Al-Quran, jika pernikahan sudah tidak bisa membawa kebaikan lagi.

Allah berfirman yang artinya:
“Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Janganlah kamu merujuki mereka untuk memberi kemudharatan, sehingga kamu dapat menganiaya mereka. Siapa yang berbuat demikian, maka sungguh dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Dan janganlah kamu menjadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (Hadits). Allah memberi pelajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah : 231)

Maka, cerai itu adalah suatu kebaikan jika membawa maslahat seperti menghindari kezaliman antara suami dan istri atau anak. Jika membawa keburukan, maka keburukan itu dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Adapun hadits riwayat Abu Dawud: “Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah thalaq” merupakan hadits dhaif (lemah). Sementara hadits “Nikahilah dan jangan kamu thalaq, karena thalaq itu menggoncang ‘Arsy (singgasana Allah)” adalah sebuah hadits palsu. Hadits ini sangat tidak masuk akal, bagaimana mungkin Arsy Allah bergegar karena perceraian seseorang?! Sedangkan Nabi sendiri pernah menceraikan istrinya.

Wanita juga boleh memohon fasakh (tuntut cerai) atau khulu’ (cerai tebus) jika dia merasa suaminya sudah tidak cocok lagi dengannya dan dia tidak mampu lagi menunaikan tanggung jawab sebagai istri. Istri Tsabit bin Qais pernah datang kepada Rasulullah dan mengadu: “Wahai Rasulullah! Aku tidak mempertikaikan Tsabit bin Qais dari segi akhlak dan agamanya. Namun aku membenci kekufuran dalam Islam.” Maka Rasulullah pun bersabda: “Maukah engkau mengembalikan kebunnya?” Jawabnya: “Ya”. Lalu Rasulullah bersabda pada Tsabit: “Ambillah kebunmu dan talaklah dia” (Riwayat Al-Bukhari)

Ini adalah kasus khulu’. Membenci kekufuran dalam Islam maksudnya adalah durhaka kepada suami yang akhirnya menyerupai kaum yang tidak beriman. Imam Ibnu Qudamah berkata: “Sesungguhnya, wanita apabila membenci suaminya disebabkan akhlak atau rupa paras atau agama atau usianya yang tua atau lemah atau semisal itu dan dia takut tidak dapat menunaikan perintah Allah dalam mentaati suami, maka harus baginya untuk khulu’ (tebus talak) dengan bayaran sebagai ganti dirinya. Ini berdasarkan firman Allah yang artinya: “Jika kamu takut keduanya (suami istri) tidak dapat menegakkan aturan hukum Allah, maka tidaklah berdosa atas keduanya tentang bayaran (tebus talak) yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya” (Al-Baqarah: 229)”

Sebenarnya banyak perkara yang disebutkan oleh para ulama yang membolehkan suatu pernikahan dibatalkan atau dibubarkan (fasakh) jika terjadi kezaliman kepada istri. Ada dua jenis mudharat yang membolehkah istri menuntut untuk dipisahkan; mudharat fisik dan mudharat batin. Mudharat fisik seperti suami memukul atau melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan cacat atau cidera. Mudharat batin mencakup segi jiwa atau psikologi seperti suami memakinya, atau tidak mau bersetubuh lagi dengannya, atau tidak mau berbicara dengannya.

Ad-Dardir dalam bukunya Asy-Syarh Al-Kabir mengatakan: “Istri boleh menuntut pisah dari suami disebabkan mudharat yang dilakukannya: yaitu berupa sesuatu yang tidak diizinkan syariat untuk dilakukan suami seperti meninggalkan istri atau memukul tanpa sebab yang dibenarkan. Atau memakinya atau bapaknya seperti menyebut: Wahai anak anjing, atau wahai anak kafir, atau wahai anak orang yang dilaknat. Ini seperti yang biasa terjadi di kalangan masyarakat yang tidak beradab. Disamping itu, selain dipisahkan, dia patut dihukum untuk memberikan pelajaran adab kepadanya. Ini seperti jika dia menyodomi istrinya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Maka dianggap memberi mudharat kepada istri yang diperbolehkan dipisah (difasakh) apabila suami meninggalkan persetubuhan dalam keadaan apapun. Sama saja, sengaja ataupun tidak sengaja meninggalkan.”

Jelas, Islam sama sekali tidak pernah menzalimi wanita. Apa yang sering terjadi adalah disebabkan oleh pengurusan beberapa pihak tentang urusan wanita yang tidak menekankan nilai-nilai keadilan, keselamatan wanita, perasaan mereka yang lemah dan semisalnya. Jangan menyalahkan Islam, sebaliknya lihatlah keadilan Islam pada nash-nash yang shahih.

Perkara yang terpenting, berdoalah kepada Allah agar dibebaskan diri dari keadaan yang menyesakkan dan diberi ganti suami yang lebih baik dan shalih. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui tentang masa depan seseorang, mohonlah masa depan yang baik kepada-Nya.

-Sebuah Catatan dan Nasehat-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s