Biasakan Berbahasa Santun

Manusia adalah makhluk sosial berarti yang tidak bisa hidup sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan ini mendorong adanya proses komunikasi antar sesama dalam menjalin hubungan dengan yang lainnya.

Pengertian Bahasa

Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat yang berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. (Keraf, Gorys. 1987)

Bahasa adalah sistem lambang bunyi oral yang arbritrar yang igunakan oleh sekelompok manusia (masyarakat) sebagai alat komunikasi. Bahasa itu merupakan fenomena sosial, tidak bisa dilepaskan dari masyarakat yang memiliki dan menggunakannya. (Suparno, 1994)

Fungsi Bahasa

Bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).

  • Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri

Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain : agar menarik perhatian orang lain terhadap kita, keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.

  • Bahasa sebagai Alat Komunikasi

Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997: 4).

Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita. Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”.

Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional. Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

  • Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).

Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

Ajaran Islam Kepada Manusia Untuk Berbahasa Santun

Dalam pemakaian bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi, manusia harus memperhatikan sisi lain yang dimiliki manusia, yaitu perasaan (hati) yang dapat merasakan senang, marah, sakit dan sebagainya. Agar proses komunikasi dapat berlangsung dengan lancar, maka manusia perlu menerapkan cara berbahasa dengan santun dalam berkomunikasi.

Tidak ada manusia yang ingin diperlakukan secara kasar dan tidak patut oleh manusia lain, manusia ingin dihormati, diperlakukan secara baik, santun, dan manusiawi. Dari sini terdapat nilai-nilai terpuji yang memiliki kaitan erat dengan santun dan harus dimiliki setiap individu agar terjalin kehidupan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini Islam telah mengajarkan akhlak kepada manusia yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat al-Qalam;

وإنك لعلى خلق عظيم

“Sungguh engkau (wahai Muhammad) berbudi pekerti (memiliki akhlak) yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Salah satu wujud individu yang berakhlak adalah individu tersebut santun berbahasa. Santun berbahasa di sini tidak sekadar pada nada suara yang digunakan ketika berbahasa, namun juga pada pemilihan kata-kata yang digunakan. Kesantunan dalam perspektif Islam merupakan dorongan ajaran untuk mewujudkan sosok manusia agar memiliki kepribadian muslim yang utuh (kaffah), yakni manusia yang memiliki perilaku yang baik dalam pandangan manusia dan sekaligus dalam pandangan Allah.

Cara Berbahasa Santun Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk untuk kehidupan manusia. Sebagai petunjuk, Al-Qur’an sendiri menggunakan bahasa yang dapat dimengerti manusia meskipun mempunyai tingkat kesastraan yang tinggi. Kita bisa melihat bagaimana al-Qur’an memberikan penjelasan-penjelasan di setiap ajarannya dengan bahasa yang dapat diterima semua manusia dan bahkan dapat menggetarkan hati para pembaca dan pendengarnya.

Al-Qur’an sendiri telah memberikan tuntunan berkomunikasi, khususnya berbahasa bagi manusia. Dalam hal berkomunikasi, ajaran Islam memberi penekanan pada nilai sosial, religius, dan budaya. Kesantunan berbahasa dalam al-Qur’an berkaitan dengan cara pengucapan, perilaku, dan kosakata yang santun serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi (lingkungan) penutur, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat berikut:

“..dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara himar.” (QS. Lukman: 19)

Melunakkan suara dalam ayat di atas mengandung pengertian cara penyampaian ungkapan yang tidak keras atau kasar, sehingga misi yang disampaikan bukan hanya dapat dipahami saja, tetapi juga dapat diserap dan dihayati maknanya. Pemilihan kata yang tepat juga merupakan hal yang patut diperhatikan dalam berkomunikasi. Berbicara dengan orang yang lebih tua hendaknya menggunakan bahasa yang lebih santun dan sopan dari pada berbicara dengan orang yang lebih muda. Adapun perumpamaan suara yang buruk digambarkan pada suara himar karena binatang ini terkenal di kalangan orang Arab adalah binatang yang bersuara jelek  dan tidak enak didengar.

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa manusia didorong untuk berkata santun dalam menyampaikan pikirannya kepada orang lain. Kesantunan tersebut merupakan gambaran dari manusia yang memiliki kepribadian yang tinggi, sedangkan orang yang tidak santun dipadankan dengan binatang.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat: 3)

Ayat ini menjelaskan bagaimana suara yang rendah (tidak dengan suara lantang atau keras) adalah mencerminkan gambaran hati yang halus dan lembut. Hati yang lembut dan jernih adalah bagian dari ciri orang yang bertakwa. Ayat ini memiliki makna bahwa bersuara rendah ketika berbicara dengan orang yang dihormati merupakan bentuk ciri berbahasa yang menggambarkan orang yang takwa.

Dalam ayat yang lain Alquran menyebutkan: “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kedua orang tua perkataan yang kasar dan jangan kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).

Dalam ayat ini kesantunan berkaitan dengan orang yang diajak berbicara. Pembicaraan yang santun adalah pembicaraan yang sesuai dengan orang, situasi, dan kondisi lingkungan yang diajak bicara.

Bicara dengan orang tua dilakukan dengan menempatkan mereka pada posisi yang tinggi dan terhormat karena pemilihan kata dan cara mengatakannya disesuaikan dengan kehormatan yang dimilikinya. Jadi, perkataan kasar yang dapat menyinggung perasaan orang tua adalah perkataan terlarang yang tidak layak kita ucapkan. Oleh karena itu, dalam konteks ini tutur kata yang dianjurkan adalah kata-kata yang berkonotasi memuliakan kedua orang tua.  Tingkat tutur bahasa memiliki hubungan dengan budi pekerti.

Pentingnya Santun Berbahasa

Mengapa seseorang harus membiasakan dirinya santun berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan kepada orang lain? Ada beberapa alasan, antara lain:

  •          Penghormatan kepada orang lain

Dengan menggunakan bahasa yang santun, berarti seseorang telah menghargai orang lain serta memperlakukan manusia sebagaimana seharusnya manusia.

  •          Harmonis

Kehidupan yang harmonis antar individu dalam masyarakat akan sulit tercapai jika anggota-anggota masyarakat tersebut tidak memiliki etika dan sopan santun berbahasa. Kasus-kasus perkelahian antarindividu (one by one), antarkelompok, atau bahkan antarkampung sering terjadi karena ketidaksantunan dalam berbahasa.

Saling ejek, saling melontarkan kata-kata kasar, menghina, dan merendahkan lawan bicara dapat memancing emosi yang berujung pada perkelahian.Jangankan kata-kata yang yang memang kasar dan bermuatan penghinaan, kata-kata yang awalnya dimaksudkan untuk bercanda saja pun dapat mengundang datangnya pertengkaran jika disampaikan pada orang dan saat yang tidak tepat.

  •          Saling pengertian

Santun berbahasa juga dapat menghindarkan terjadinya kesalahpahaman antara orang-orang yang melakukan kegiatan komunikasi tersebut.

Aplikasikan Berbahasa dengan Santun di Manapun Kita Berada

Sebagai anggota masyarakat, sudah selayaknya jika kita melatih diri untuk berbahasa dengan santun dan sopan. Banyak ditemukan kasus terjadinya ketidakhamonisan dan kesalahpahaman antara sesame manusia, karena masalah berbahasa ini. Ketidakharmonisan dan kesalahpahaman ini tak hanya terjadi dalam penggunaan bahasa lisan, namun juga tulisan.

Dalam bahasa lisan, kita bisa dinilai tidak santun berbahasa jika menggunakan intonasi yang keras pada lawan bicara, menggunakan pilihan kata yang tidak tepat, atau menggunakan kata tidak sopan dan terkadang tidak dimengerti oleh lawan bicara. Sering didapati dari kita dinilai tidak santun dan kasar dalam berbahasa karena menggunakan bahasa gaul. Bahasa Gaul atau Bahasa prokem merupakan bahasa pergaulan. Bahasa ini kadang merupakan bahasa sandi, yang dipahami oleh kalangan tertentu. Bahasa gaul adalah dialek nonformal baik berupa slang atau prokem yang digunakan oleh kalangan tertentu, bersifat sementara, hanya berupa variasi bahasa, penggunaannya meliputi: kosakata, ungkapan, singkatan, intonasi, pelafalan, pola, konteks serta distribusi.

  • Bahaya Merebaknya Bahasa Gaul

Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Masa remaja memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan, dan kenakalan. Ciri ini tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia (Sumarsana dan Partana, 2002:150).

Bahasa gaul ini melanggar semua aturan di dalam aturan berbahasa. Dampak buruk yang bisa timbul adalah komunikasi antar individu sulit tercapai karena lawan bicara belum tentu mengerti apa yang sedang dibicarakan. Padahal fungsi berbahasa baru berhasil jika tercapai saling pengertian antarindividu yang terlibat. Saling pengertian itu bisa diperoleh melalui perilaku santun berbahasa.

Dan dampak lebih buruknya adalah jauhnya kita dari ajaran Allah yang mengajarkan kita untuk berbahasa dengan santun dan sopan kepada orang lain. Jangan menjadi pengikut media atau tren buruk yang berkembang karena karena kita bisa menjadi bagian dari mereka.

Dalam hadits yang shahih Nabi bersabda,

“Barang siapa yang menyerupai sekelompok orang maka dia adalah bagian dari mereka.”

  • Ikutilah Al-Quran dan Sunnah

Dan jadikan Al-Qur’an dan Sunnah bagi seorang muslim adalah sumber petunjuk segala aturan kehidupan ini termasuk menerapkan cara berbahasa dengan santun. Ikuti suri tauladan kita yaitu Rasulullah yang mencontohkan kepada kita melalui sunnah Nabi.

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (31) Katakanlah, “Tha’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (32) [QS. Ali ‘Imraan : 31-32]

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiyamat dan dia banyak menyebut Allah”. [QS. Al-Ahzaab :21]

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah”. [QS. An-Nisaa’ : 64]

“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya”. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899]

Budayakan berbahasa yang sopan, santun, baik dan benar sehingga tujuan komunikasi tercapai. Bahasa itu  mencerminkan pribadi seseorang. Bahasa itu mencerminkan tingkat ketakwaan kita pada Allah. Jika kita selalu menggunakan bahasa yang baik dan penuh kesantunan sesuai perintah Allah maka hati kita menjadi lembut, pribadi kita menjadi baik dan berbudi. Melalui tutur kata yang kita ucapkan, orang lain bisa menilai pribadi kita. Jika dalam keseharian, kita tidak memenuhi etika berbahasa santun. Allah dan juga orang lain akan mencitrakan kita sebagai pribadi yang buruk.

Sumber:

http://shofighter.blogspot.com/2013/07/pendidikan-berbahasa-santun-di-sekolah.html

http://marskrip.blogspot.com/2009/12/pengertian-bahasa.html

http://nanditoaldo.wordpress.com/2012/11/06/pegaruh-bahasa-pergaulan-dalam-perkembangan-bahasa-indonesia/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s