Bahaya Lisan

Rangkuman isi ceramah al-ustadz Muhammad Nuzul Dzikri(Waspada Bahaya Lisan) Masjid Habiburahman-IPTN-Bandung

27 October 2013

Kita harus bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat lisan yang diberikan kepada kita. Salah satu bentuk cara bersyukut adalah dengan menjaga lisan kita dari perkara yang buruk dan merugikan. Lisan bisa berdampak negatif jika salah digunakan. Siksa dari ucapan lisan adalah azab neraka yang pedih. Lisan itu punya nafsu berbicara maka susah untuk ditahan. Penjarakan lisanmu agar kamu terjaga. Berkata baik atau diam. Jagalah kata-kata kita. Kalau sudah belajar agama dan masih menggunakan lisan dengan buruk berarti yang dipertanyakan adalah bagaimana keimanannya?

Adapun Bahaya Lisan :

1. Syirik dan kekufuran

Misalnya: -berkata dengan kekafiran, semisal menyatakan diri murtad dari Agama Islam.

-bersumpah dengan selain Allah.

2. Berbicara agama tanpa ilmu

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. “Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Isro : 36).

Berbicara agama tanpa ilmu, hal tersebut adalah propaganda setan.

“Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al Baqoroh :169)

Bentuknya antara lain:

-Berfatwa tanpa ilmu, Fatwa=menjelaskan hukum Allah

orang awam hanya boleh menyambung lisan fatwa dari ulama bukan berfatwa, yang berfatwa harus orang yang berilmu.

-Menyampaikan dalil tanpa penjelasanya, shohih atau dhoif atau malah palsu.

-Berbicara atau mengomentari agama dengan menggunakan akal.

Jika ada syariat agama yang tidak bisa dijangkau dengan akal, jangan salahkan syariatnya tapi salahkan akal kita yang sangat kurang sehingga tidak bisa menjangkaunya.

3. Ghibah

Ghibah membawa bahaya yang sangat luar biasa dan merupakan dosa besar. Ghibah itu jika kamu berbicara tentang saudaramu tapi jika dia mendengarnya dia tidak suka. Jika perkataanmu benar maka engkau telah menggibahnya dan jika perkataanmu tidak benar maka engkau telah memfitnahnya.

Dari Abu Huroiroh radliyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”(Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999 dan lain-lain).

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujarat : 12).

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah).

Jagalah kalian dari menggibahi satu sama lain. Ghibah=memakan bangkai saudara sendiri. Jika kita membuka aib dan kesalahan orang, maka Allah akan membuka aib kita. Jangan pernah mencari-cari kesalahan mereka.

Dosa ghibah yang paling parah : yang merusak kehormatan seorang muslim.

Dosa ghibah yang paling ringat: berzina dengan ibunya

4. Dusta/ berbohong

Bohong adalah berbicara yang tidak sesuai dengan fakta. Bohong itu sangat parah dan indetik dengan kemunafikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berseteru dia berbuat kefajiran”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim ).

Dusta yang diperbolehkan : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meringankan dalam segala sesuatu yang diucapkan oleh para manusia itu, melainkan dalam tiga keadaan, yaitu dalam peperangan, dalam mengadakan hubungan baik antara manusia yang sedang berselisih, dan ucapan seseorang suami terhadap isterinya atau seorang isteri terhadap suaminya”(HR. Muslim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s