Pakaian Muslimah yang Seharusnya

Wanita memang identik dengan kecantikan. Naluri seorang wanita tentunya tak terlepas dari keinginannya untuk terlihat cantik di manapun dia berada. Selain naluri, memang faktor lingkungan juga ikut mendorong mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk tampil sempurna. Untuk memperlihatkan kecantikannya, wanita sering melakukan banyak usahanya agar bisa terlihat cantik di depan umum, mulai dengan mendandani wajahnya, merias pakaiannya, mengatur attitude sehingga terlihat anggun…ya, wanita cenderung berusaha total menampilkan apa yang mereka punya, misalnya: wajahnya yang elok, fisiknya yang indah maupun pakaiannya yang menggoda pandangan mata yang melihatnya, serta keanggunan perangainya.

Wanita juga bisa menjadi tertekan/stress karena tuntutan dari dalam dirinya sendiri yaitu tampil sempurna, dan hal ini sering diusahakan dengan berbagai cara dari yang halal sampai tidak halal dan menyiksa diri sendiri. Sebagian dari mereka melakukan tindakan ekstrim dan haram pada diri mereka sendiri, contohnya melakukan operasi plastik pada wajah dan bagian tubuh mereka, diet keras, mencukur alis, dan sebagainya sebagai usaha maksimal mereka untuk memperoleh cantik versi mereka. Kenapa bisa seperti itu? Karena itu sudah sifat naluri wanita, wanita adalah makhluk yang lemah, sering kurang percaya diri dengan apa yang mereka miliki dan selalu ingin terlihat cantik karena mereka senang, berbangga-bangga diri dan seolah-olah ingin memperlihatkan kecantikannya ke seluruh dunia dan yang mereka cari adalah pengakuan serta pujian dari orang-orang bahwa mereka itu cantik, sempurna.

Kesalahan wanita adalah pada keinginan mereka menunjukkan kecantikannya di depan banyak orang padahal Allah menciptakan wanita untuk menjadi kesenangan hanya bagi suami mereka. Hanya untuk suami, kecantikan itu seharusnya mereka tunjukkan. Kesalahan wanita adalah pada usaha mereka untuk berhias, mempercantik diri yang terkadang haram untuk dilakukan. Kesalahan wanita adalah kurangnya rasa syukur mereka kepada Allah dengan apa yang mereka miliki, yang harusnya hanya mereka jaga dan bukan untuk diubah. Kesalahan selanjutnya adalah mereka tidak mengerti esensi kecantikan yang seharusnya mereka tutupi dan bukan untuk diumbar sehingga tidak menimbulkan bahaya pada diri mereka sendiri, agar terhindar dari gangguan-gangguan laki-laki asing yang bukan mahram dan dengan menutupinya lebih menjaga kehormatan seorang wanita. Kesalahan wanita berikutnya adalah mereka enggan belajar ajaran Islam dengan baik padahal Allah telah mengatur bagaimana wanita harus me-manage kecantikan yang dianugerahkan Allah pada mereka.

Mempercantik diri dengan menjaga dan mempertahankan kecantikan sebagai rasa syukur kepada Allah adalah hal yang memang harus dilakukan muslimah. Akan tetapi, bukan berarti dengan kecantikannya itu wanita bebas menunjukkannya pada orang lain, dengan mengumbar kecantikan di depan umum, wanita telah melakukan kesalahan karena hal tersebut sangat dilarang. Karena Allah menciptakan wanita dengan kecantikan yang dimilikinya adalah sebagai kesenangan untuk suami mereka dan bukan untuk orang lain. Wanita berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya bukan untuk orang lain sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya.

Dari Abu Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita solehah”(HR. Muslim: 3649,Nasai,Ibnu Majah)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)

Wanita harus berhati-hati dengan cara yang mereka lakukan dalam mengatur kecantikannya, jika tidak, maka mereka dengan mudah akan terjerumus ke dalam Neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim)

Dari Imran bin Husain dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya penduduk Surga yang paling sedikit adalah wanita.” (Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad)

Imam Qurthubi (rahimahu ‘Llah) menjelaskan maksud hadits di atas dengan pernyataannya :

“Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat kerana kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum lelaki dari akhirat disebabkan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tazkirah halaman 369)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Dua golongan yang termasuk penghuni neraka Mail (nama neraka) yaitu, wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang yang membuat hati jadi terfitnah, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga dapat tercium dari jarak yang sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Bagaimana Islam, mengatur wanita untuk menjaga kecantikan dan penampilannya agar dirinya selamat?

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا كانَ لِمُؤمن وَلَا مُؤمِنةٍ إِذا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أمرًا أن يَكونَ لهم الخِيَرَة مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ الله وَرَسُولهُ فقد ضَلَّ ضلالاً مبينا

“Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi wanita yang mu’minah apabila Allah dan rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan ,tidak akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka .dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs Al Ahzaab: 36)

و قل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن و يحفظن فروجهن , ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها ,وليضربن بخمرهن على جيوبهن

“Katakanlah pada wanita wanita yang beriman; ‘’hendaknya mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan nya kecuali apa yang biasa tampak dari padanya dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedada mereka” (Qs An Nuur: 31)

يا أيّها النبيّ قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهنّ من جلابيبهنّ ذلك أدنى أن يُعرَفنَ فلا يُؤذين وكان الله غفوراً رحيماً

“Wahai para nabi katakanlah kepada istri istrimu, ,anak-anak perempuanmu dan istri istri orang-orang mukmin; ‘Hendaklah mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”  (Qs Al Ahzaab: 59)

Tutupilah kecantikanmu wahai wanita dengan pakaian muslimah. Karena dengan begitu, dirimu akan terjaga kehormatanmu sebagai wanita dan hamba Allah.

Adapun syarat-syarat pakaian muslimah yang seharusnya dipakai wanita adalah:

  •  Pakaian wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Ingat, selain kedua anggota tubuh ini wajib ditutupi termasuk juga telapak kaki karena termasuk aurat. Ada pendapat ulama yang lainnya, mengatakan bahwa wajah dan telapak tangan termasuk aurat maka bagi yang berpendapat tersebut, wajib baginya menutup seluruh tubuh termasuk wajah dan tangannya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.

  • Bukan pakaian untuk berhias seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik, dihiasi dengan manik-manik dan yang semacamnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33).

Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat menggoda kaum lelaki.

Ingatlah, bahwa maksud perintah untuk mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian, tidak masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita malah menjadi pakaian untuk berhias sebagaimana yang sering kita temukan.

  •  Pakaian tersebut tebal, tidak tipis dan tidak tembus pandang yang dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh. Pakaian juga harus longgar dan tidak ketat sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.

Dalam sebuah hadits shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini.” (HR.Muslim)

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga dapat menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, 125-126)

Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya, beliau bersabda,
Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” (HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)

BEbUVxCCQAA1tP8Wanita harusnya bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak digunakan saat ini sudah sesuai syari’at atau tidak.

  • Tidak memakai wewangian atau parfum.

Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah wanita pezina.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih).

  • Tidak boleh menyerupai pakaian pria atau pakaian wanita non-muslim.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Ada perbedaan jelas cara berpakaian wanita muslimah dengan wanita nonmuslim dan janganlah kita menyerupai nonmuslim.

1382398_10202423866342116_1023681669_n

  •  Bukan pakaian untuk mencari ketenaran atau popularitas (pakaian syuhroh).

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِى الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا

Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya. (Jilbab Muslimah)

Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan keinginan meraih popularitas. Jadi, yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.” (HR. Tirmidzi)

  • Pakaian tersebut terbebas dari salib.

Dari Diqroh Ummu Abdirrahman bin Udzainah, dia berkata,

كُنَّا نَطُوفُ بِالْبَيْتِ مَعَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَرَأَتْ عَلَى امْرَأَةٍ بُرْداً فِيهِ تَصْلِيبٌ فَقَالَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ اطْرَحِيهِ اطْرَحِيهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى نَحْوَ هَذَا قَضَبَهُ

“Dulu kami pernah berthowaf di Ka’bah bersama Ummul Mukminin (Aisyah), lalu beliau melihat wanita yang mengenakan burdah yang terdapat salib. Ummul Mukminin lantas mengatakan, “Lepaskanlah salib tersebut. Lepaskanlah salib tersebut. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat semacam itu, beliau menghilangkannya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ibnu Muflih dalam Al Adabusy Syar’iyyah mengatakan, “Salib di pakaian dan lainnya adalah sesuatu yang terlarang. Ibnu Hamdan memaksudkan bahwa hukumnya haram.”

  •  Pakaian tersebut berasal dari bahan yang suci dan halal, bukan pakaian kesombongan, dan bukan pula pakaian pemborosan.
  •  Tidak boleh memakai jilbab seperti layaknya punuk unta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Dua golongan yang termasuk penghuni neraka Mail (nama neraka) yaitu, wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang yang membuat hati jadi terfitnah, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga dapat tercium dari jarak yang sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

jibab-yang-tidak-syar'i

Inilah aturan Islam terkait dengan pakaian wanita. Sesungguhnya wanita muslimah sangat mulia kedudukannya jika mereka mampu menerapkan hukum Islam. Dalam Islam, wanita begitu dihargai sampai hal-nya pakaianpun diatur didalamnya, tak lain hanya demi kebaikan wanita tersebut. Pakaian muslimah yang seharusnya dipakai ini merupakan cara untuk menjaga kehormatan wanita, pelindung bagi wanita dari gangguan orang-orang dan mencegah kerusakan yang timbul akibat keinginan wanita yang cenderung ingin berhias diri (tabarruj) dan menampilkan kecantikannya kepada orang lain. Karena menunjukkan kecantikan wanita kepada khalayak ramai adalah kenistaan, kehinaan, bentuk merendahkan harga diri dan kehormatan wanita yang berujung pada kerugian bagi wanita di dunia maupun akhirat.

1376490_348951701909055_884404265_n

Pakaian Muslimah yang Syar’i

Sumber:

http://muslimah.or.id/keluarga/muslimah-kemana-kan-kau-bawa-cantikmu.html

http://remajaislam.com/islam-dasar/pojok-muslimah/150-12-kriteria-pakaian-muslimah.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s