Jawaban Atas Pilihan

1009836_550317681689061_556424272_n

Kenapa aku memilih Islam?

Meluangkan waktu untuk membuat pondasi kuat dalam ber-Islam dan aku dapati alasan atas semua pilihanku. Aku seorang pemikir bukan aku jika hanya mengikuti apa yang dikatakan orang padaku dan bukan aku jika hanya duduk tanpa mau menggunakan otak dan hatiku untuk memilih jalan dalam hidupku. Dan aku mencari jawaban atas apa yang menjadi keyakinanku. Aku bertanya mengapa aku sangat yakin dengan pilihanku, itu semua karena hidayah dari Allah. Allah sangat sayang padaku dan aku sampai saat ini terus berusaha menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.

-Ada yang menciptakan dunia dan seisinya

Aku meyakini bahwa dunia dan seisinya tidak akan mungkin ada tanpa adanya Pencipta. Contoh kecil: jika kita melihat ada sebuah buku. Tentu buku itu tidak akan ada, jika tidak ada orang yang membuatnya. Dan begitu pula dengan dunia seisinya, tidak akan mungkin ada tanpa adanya Sang Pencipta. Sesuatu yang terjadi tidak akan mungkin terjadi jika tidak ada yang membuat maupun mengaturnya. Aku meyakini adanya sang Pencipta dan sang Pencipta itu pasti hanya satu/esa. Dia tidak beranak dan juga tidak diperanakkan karena aku yakin Dia itu unik dan tentu berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Dia sangat berkuasa terhadap semua yang diciptakannya. Sesuai firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Huud: 7)

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al A’raaf Ayat 54)

Ada tujuan dalam penciptaan alam dan seisinya

Aku meyakini kita diciptakan tentulah tidak mungkin jika tidak memiliki tujuan. Mengapa kita diciptakan jika tidak ada alasannya. Tentu ada maksud dengan semua penciptaan-Nya. Jika kita terus berpikir, kita akan terus temukan bahwa pencipta kita adalah Tuhan dan Tuhan kita adalah Allah, Dia yang menciptakan alam seisinya. Jika kita lanjutkan berpikir maka kita lama-lama penasaran kemudian pasti akan mencari tahu apa sebenarnya yang Allah inginkan dari kita kenapa kita harus diciptakan, apa maksud Allah dengan menciptakan dunia seisinya termasuk kita sebagai manusia di dunia ini. Penciptaan manusia bukan hanya untuk main-main melainkan ada maksud dan tujuannya.

“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Aku meyakini bahwa tentunya kita tidak akan mengetahui tujuan kita jika tidak ada yang memberi tahu apa tujuan kita diciptakan. Aku meyakini ada manusia-manusia yang diciptakan oleh Allah untuk memberi tahu apa sebenarnya tujuan manusia hidup di dunia ini. Dan orang-orang yang diberi kelebihan untuk memberi tahu tujuan hidup manusia adalah utusan Allah yaitu Nabi dan Rasul Allah. Mereka diutus untuk memberi kabar gembira maupun peringatan pada manusia. Mereka diutus dari masa ke masa dan untuk umat manusia yang sangat banyak jumlahnya dan tujuannya sama yaitu untuk menyembah Allah dan memberi petunjuk bagaimana cara untuk beribadah kepada-Nya.

-Islam is the true religion

1000585_544361465618016_1452818466_nSampailah pada keyakinan bahwa hanya Islam-lah yang menyembah Tuhan yang Esa yaitu Allah Ta’ala. Hanya Islam-lah yang mengajarkan keutuhan, kesamaan, keselarasan ajaran dari Nabi Adam (nabi pertama) sampai dengan Nabi Muhammad (penutup para nabi dan rasul). Hanya Islam-lah yang memiliki kitab sempurna, Al Quran dengan banyak pelajaran, kisah di dalamnya, petunjuk bagi manusia tanpa ada kontradiksi di dalamnya. Al Quran adalah satu-satunya kitab asli dari kalam Allah (kalimat Allah) tanpa campur tangan manusia sedikitpun. Al Quran diturunkan Allah sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya yaitu Taurat, Zabur dan Injil. Dan hanya-lah Islam adalah agama yang sempurna yang mengajarkan cara untuk menjadi hamba yang dicintai dan mencintai Allah. Wujud kecintaan hamba kepada Sang Khalik (Pencipta) yaitu dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang Penciptanya. Dan aku temukan, hanyalah Islam is the true religion.

Sesuai firman Allah yang artinya:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS: Al-Maidah Ayat: 3)

Apa yang aku cari semua ada dalam Islam. Jika orang mau berpikir, mau mencari kebenaran maka dia akan menemukan Islam, akan yakin bahwa “Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Tak ada keraguan sedikitpun bagi orang-orang yang berpikir dan beriman.

– Apa tujuan manusia diciptakan

Dan telah aku dapati, sang Pencipta itu adalah Allah Ta’ala. Aku akhirnya dapati, tujuan kita diciptakan adalah hanya untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya, mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sesuai dengan Firman Allah:

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu”. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini mengindikasikan tentang tujuan penciptaan manusia sebagai hamba Allah. Indikasi ini dapat dipahami dari klausa kata “Li ya’budun”  yang berarti agar mereka mengabdi kepada-Ku. Maksudnya Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada Allah, bukan karena Allah membutuhkan manusia.

Contoh kecil: seorang pembantu pasti dia perlu taat dan patuh kepada semua arahan tuannya, dia diberi upah, segala macam bantuan, kemudahan dan keamanan oleh tuannya. Apakah dengan ketaatan dari sang pembantu tersebut, kita bisa katakan tuannya itu sombong?. Jelas tidak. Ketaatan itu untuk kebaikan sang pembantu dan juga tuannya, dia akan dapatkan upah yang baik dari apa yang dia lakukan pada tuannya dan dia akan dapatkan tuannya bahagia dengan kepatuhannya. Tapi jika pembantu tersebut tidak taat, “apakah layak bagi pembantu itu mendapatkan upah dari tuannya?”. Coba renungkan sejenak. Itu notabennya hanya pembantu yang statusnya bukan milik tuannya.

Apalagi Allah yang dengan jelas telah menciptakan kita dan yang memiliki kita yang nantinya kita akan kembali kepada-Nya, “Apakah kita masih ragu dengan melakukan apa yang Allah perintahkan untuk beribadah kepada-Nya?”. Allah ingin menguji manusia jika manusia bisa meraih surga-Nya dan dunia ini hanyalah sementara. Balasan bagi manusia di akhirat adalah surga atau neraka. Kita, manusia yang membutuhkan tempat terbaik yaitu surga maka Allah yang Maha Adil akan berikan surga itu jika kita bisa menjadi hamba yang bertaqwa pada-Nya. Semua sudah jelas tertuang pada Al Quran yang diturunkan oleh Allah dan As Sunnah yang merupakan petunjuk dari Nabi Muhammad. Kedua pegangan itu mengajari kita bagaimana kita sebagai manusia, makhluk yang diciptakannya harus mengikuti apa yang Allah perintahkan jika kita menginginkan surga indah dari Allah.

-Kenalilah Allah

Kenalilah Allah dengan baik maka kamu akan mencintai Allah dan jika kita tidak mengenali Allah bisa jadi selama ini kita juga belum menyembah Allah dengan benar. Seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Seseorang tidak dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah Ta’ala (Muqoddimah Qowa’idul Mutsla).

-Dimanakah Allah

Pernahkah kamu bertanya, “Dimanakah Allah?” maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy itu berada di atas langit. Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy (QS. Thaha: 5)

Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

“Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16)

Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di atas langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim).

Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: “Akal seorang muslim yang jernih akan mengakui bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan maha suci dari segala kekurangan. Dan ‘Uluw (Maha Tinggi) adalah sifat sempurna dari Suflun (rendah). Maka jelaslah bahwa Allah pasti memiliki sifat sempurna tersebut yaitu sifat ‘Uluw (Maha Tinggi)”. (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha)

Allah Ta’ala berada di atas Arsy, namun Allah Ta’ala juga dekat dan bersama makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Allah bersamamu di mana pun kau berada” (QS. Al Hadid: 4)

Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu. Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.

Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.

Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini: “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)

Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.(QS. Al-Araf : 54)

-Pentingnya Bertauhid Kepada Allah

Mentauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah salah satu dari tiga jenis Tauhid: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Shifat. Seorang hamba tidak mungkin dapat beribadah kepada Allah dengan sempurna sampai ia mempunyai ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Bahwa sesuatu yang paling agung, paling mulia dan paling besar untuk diketahui adalah tentang Allah. Dzat yang tidak ada sesuatupun berhak diibadahi kecuali Dia, Rabb alam semesta, Pemelihara langit, Maha Raja Yang Haq, yang disifati dengan semua sifat sempurna. Dzat yang Maha Suci dari segala kekurangan dan cela, Maha Suci dari keserupaan serta kesamaan dalam kesempurnaanNya. Maka tidak diragukan bahwa mengilmui nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya merupakan pengetahuan paling agung dan paling utama.

Allah Maha Esa dengan segala sifat kebesaran dan kesempurnaan. Maha suci dari segala sifat kekurangan dan kesamaan dengan makhluk-Nya. Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia (99 Asmaul Husna).

Barangsiapa memperhatikan dan merenungkannya, niscaya akan mengetahui Allah yang berdiri sendiri dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia tidak butuh kepada selain-Nya dan justru sesuatulah yang membutuhkan-Nya. Jika manusia beribadah kepada Allah tentunya bukan karena Allah yang membutuhkan tetapi manusialah yang membutuhkan ibadah itu untuk meraih surga Allah. Dia bersemayam di atas singgasana-Nya, berada di atas seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dia melihat dan mendengar, meridhai dan memurkai, mencintai dan membenci. Dia mengatur urusan kerajaan-Nya, sedang Dia berada di atas singgasana-Nya, memerintah dan melarang.

Dia mengutus para utusan ke berbagai penjuru kerajaan-Nya, dengan membawa wahyu-Nya yang diperdengarkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.

Hajat dan kebutuhan seorang hamba kepada Allah sangat maksimal, namun demikian ia selalu menyimpang dan berpaling dari-Nya. Manusia sering memperlihatkan kebencian dan melakukan kemaksiatan kepada-Nya, padahal manusia sangat memerlukan Allah dalam segala aspek kehidupan. Padahal hanya kepada Allah, manusia dikembalikan dan kepada-Nya-lah manusia akan dihadapkan.

Dialah Allah Pemilik keperkasaan, kekuasaan dan kemenangan. Sedangkan semua hamba-hamba-Nya berada dalam kondisi yang sangat hina, miskin serta membutuhkan-Nya. Tidak satupun makhluk yang terlepas dari kebaikan-Nya, walau sekejap mata. Manusia hanya akan mengira dan menyangka bahwasannya ia mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan Rabbnya, ketika dia dikuasai oleh sikap melampaui batas. Padahal sesungguhnya hanya kepada Allah tempat kembali kita.

Ilmu tentang Allah adalah pokok dan sumber segala ilmu untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan mengenal Allah tentang kekuasaan dan kemuliaan Rabbnya, tentunya akan membuahkan rasa malu dan cinta kepada Allah, ketergantungan hati dan perasaan rindu serta senang untuk bertemu Allah, selalu ingin untuk kembali kepada-Nya, serta merasa takut kepada-Nya.

Seorang hamba harus mengakui, bahwa dirinya lemah dalam memuji dan bersyukur kepada Allah. Dan sungguh telah berkata seorang hamba yang paling mengenal Rabbnya, yaitu Nabi Muhammad.

“Aku tidak mampu memuji-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri” (HR. Muslim I/86)

…وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِك

Aku berlindung kepada-Mu dari hukuman-Mu, aku tidak mampu menyebut semua pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri..(HR. Muslim 486, Nasai 169, Abu Daud 879, dan yang lainnya).

Dalam sebuah riwayat Nabi Musa Alaihi Salam, bersabda :

” Ya Tuhanku, kapankah aku bisa menghaturkan pujian dan syukur kepada Mu? Sedangkan pujian dan syukur-ku adalah nikmat dari-Mu juga?

Maka Allah berfirman kepada Nabi Musa Alaihi Salam , “ketika kamu mengerti bahwa dirimu tidak mampu memuji-Ku, maka kamu benar-benar telah memuji-Ku.”

Dalam suatu riwayat , Nabi Dawud Alaihi Salam Bersabda :

” Ya Tuhanku , tidak ada satu rahmat pun pada diri anak adam, kecuali diatas dan dibawah rambut itu ada nikmat, maka dengan apa anak Adam dapat mensykuri nikmat itu? Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepadanya, ‘Hai Dawud , sesungguhnya Aku telah memberi nikmat yang sangat banyak, namun Aku rela dengan pujian yang sedikit. dan sesungguhnya syukurmu atas nikmat itu adalah kamu mengerti dan mengakui bahwa nikmat-nikmat yang telah kamu terima itu dari Aku.’

Sikap introspeksi diri akan membersihkan hati dari sifat ‘ujub (perasaan kagum yang membawa kepada kesombongan) terhadap amal perbuatan yang pernah dikerjakan. Karena sikap ‘ujub itu menafikan keikhlasan dari sisi merendahkan diri terhadap Allah. Padahal manusia hanyalah makhluk ciptaan-Nya yang lemah dan setiap karunia yang diperoleh seseorang, semua itu dari Allah semata. Allah berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”. (QS. An Nahl: 53)

-Ikhlaskan Agama Kepada Allah

Mengikhlaskan agama dan ketaatan kepada Allah merupakan pilar utama dan pokok ajaran Islam yang mulia ini.

Allah berdiri sendiri dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia tidak butuh kepada selain-Nya dan justru sesuatulah yang membutuhkan-Nya. Jika Allah memerintahkan manusia beribadah kepada Allah tentunya bukan karena Allah yang membutuhkan tetapi manusialah yang membutuhkan ibadah sebagai wujud ketaqwaan-Nya dan untuk meraih surga Allah. Karena Allah Maha Adil, tentunya hanya hamba-Nya yang bertaqwa yang berhak meraih surga-Nya dan hamba-Nya yang mengingkari perintah-Nya yang akan berada dalam neraka yang kekal.

Allah memiliki kesempurnaan dan keagungan. Allah memerintahkan kita untuk memuji-Nya bukan karena Allah membutuhkan-Nya tetapi karena Allah ingin menusia sadar bahwa manusia hanyalah makhluk ciptaan-Nya yang lemah dan semua karunia yang diberikan pada manusia hanyalah datang dari Allah. Manusia tidak akan sanggup memuji Allah sebagaimana Allah memuji diri-Nya sendiri.

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih.” (QS. az-Zumar: 2-3)

Perintah ikhlas dan penjelasan bahwasannya Allah Ta’ala, sebagaimana halnya kepunyaanNya-lah semua kesempurnaan dan karunia atas hamba-hambaNya dari segala sisi, maka demikian juga hanya milikNya-lah agama yang bersih lagi bebas dari segala noda. Itulah agama yang diridhaiNya dan diridhai oleh manusia pilihanNya dan yang diperintahkan kepada mereka, sebab ia berisi mempertuhankan Allah dalam mencintaiNya, takut dan berharap kepadaNya, berinabah (kembali) kepadaNya dalam mencari segala kebutuhan hamba-hambaNya. Itulah yang bisa memperbaiki qalbu (hati), membersihkan dan menyucikannya; kecuali mempersekutukanNya dalam ibadah apapun, karena Allah Ta’ala anti darinya dan persekutuan itu tidak layak bagi Allah.

Sesungguhnya status dan kedudukan tauhid adalah seperti pondasi sebuah bangunan. Imam Ibnul Qayyim berkata:” Siapa hendak meninggikan bangunannya ia berkewajiban untuk mengokohkan, memantapkan dan sungguh-sungguh mencurahkan segala perhatiannya kepada pondasinya, karena ketinggian sebuah bangunan sangatlah bergantung pada kekuatan dan ketangguhan asasnya. Amal-amal kebaikan dan tingkatan-tingkatannya ibarat badan sebuah bangunan, sedangkan keimanan adalah asas dan pondasinya.”

Imam Ibnul Qayyim melanjutka dengan mengatakan “Asas ini menyangkut dua hal”, yaitu:

  1. Pengenalan seseorang tentang Allah, perintah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya secara benar
  2. Pemurnian kepatuhan/ketaatan hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak kepada selain-Nya

Inilah pondasi yang paling kokoh bagi seorang hamba yang mendirikan bangunan di atasnya. Tinggi bangunan yang dikehendakinya tergantung pada asas di atas. Oleh sebab itu, kokohkanlah asas, peliharalah kekuatannya dan teruslah mengawasinya.

Keikhlasan dan tauhid ibarat sebatang pohon yang tumbuh dalam hati. Cabang-cabangnya adalah amal perbuatan dan buahnya adalah kedamaian yang dirasakan dalam kehidupan di dunia ini serta kenikmatan yang kekal di akhirat kelak.

Jika kita mencintai Allah, kenalilah Allah dengan baik sesuai tuntunan-Nya, ikhlaskan diri melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan jauhi apa yang dilarang-Nya. Cintailah Allah dengan terus mengingat-Nya-memuji-berdzikir-berdoa hanya kepada-Nya, belajarlah ilmu syar’i untuk mendekatkan diri pada-Nya, beribadahlah dengan ibadah yang dicintai-Nya, jauhi diri dari bermaksiat kepada-Nya. Jangan pernah berburuk sangka pada-Nya karena Dia sebaik-baik penolong bagi hamba-Nya, Dia yang memberi banyak nikmat kepada kita walau sering kita tidak menyadari dan kita hanyalah makhluk lemah yang sangat kecil di hadapan-Nya. Dan hanya kepada Allah, tempat kita kembali. Berusahalah untuk jadi hamba yang terus mendapat kecintaan dari Allah. Ikuti jalan yang lurus dengan pedoman Al Quran dan As Sunnah sesuai tuntunan Nabi Muhammad dan juga generasi terbaik Islam (para sahabat, tabiin, tabiut tabiin) agar kita selamat, mendapat rahmat dari Allah, dicintai Allah dan meraih surga Allah di akhirat kekal nanti. Aamiin.

-oleh: gestin mey-

 

One thought on “Jawaban Atas Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s