Islam Myanmar

Islam di Myanmar termasuk dalam agama minoritas, dengan persentase sekitar 15 % dari jumlah penduduk di seluruh Myanmar.

 1

Bengali Sunni Jameh Mosque, Yangon

Sejarah

Agama Islam mulai tersebar di sekitar pantai benua kecil India sekitar abad ke-7 M, pedagang Islam mulai menyebarkan agama itu ke Burma. Mayoritas mereka berasal dari etnis Arab, Persia, dan India. Pelaut-pelaut Islam ini untuk pertama kalinya sampai di Burma kira-kira abad ke-9 M. Tumpuan utama mereka adalah berdagang di sekitar pantai Arakan dan hilir Burma. Dalam tulisan-tulisan pelaut Arab dan Persia pada masa itu terdapat catatan tentang Burma. Ibn Khordadhbeh, Sulaiman, Ibn al-Faqih dan al-Maqdisi yang melintasi kawasan ini pada abad ke-9 dan 10 M telah mencatatkan aktivitas pedagang-pedagang Islam di Burma ketika itu.

Diantara mereka ada yang singgah di Burma untuk berdagang dan ada pula yang menanti angin sebelum meneruskan pelayaran mereka ke timur atau balik ke India atau tanah Arab. Ada juga diantara mereka yang akhirnya menetap di burma karena kapal yang mereka tumpangi rusak atau tenggelam. Mereka yang agak lama tinggal di Burma ini akhirnya menikah dengan penduduk setempat yang beragama Budha, sehingga terbentuklah komunitas Islam di pelabuhan-pelabuhan negara itu. Orang-orang keturunan Islam ini dikenal sebagai Pathee atau Kala. Perkawinan campuran ini telah menyebabkan tersebarnya agama Islam di sekitar kota-kota pelabuhan di Burma terutama setelah abad ke-10 M.

Duarte Barbosa, seorang pengembara Portugis yang berkunjung ke India antara tahun 1501-1516 M juga menyebutkan tentang pesatnya perdagangan yang dijalankan oleh orang Islam antara Burma dan India. Diantara barang komoditi yang dibawa oleh kapal-kapal dagang Islam itu adalah gula, batu permata (delima), kapas, sutera, tembaga, perak, herba, dan obat-obatan. Kehadiran orang Islam di Burma ini nampaknya tidak menyenangkan penduduk pribumi. Mereka sering diganggu terutama setelah kedatangan orang Barat ke Burma. Namun demikian orang Islam yang telah menjadikan Burma sebagai tanah air dan mereka terus tinggal berkelompok dipinggir pantai sekitar pelabuhan dan menjadi komunitas yang dikenal sebagai orang Burma Islam (Muslim Burmese).

Sejarah Muslim Rohingnya

Daerah Arakan secara geografis terpisah dengan sebagian besar wilayah negara Myanmar yang menganut agama Buddha. Daerah tersebut dipisahkan oleh Gunung Arakan. Luas provinsi itu sekitar 20 ribu mil persegi dan Akyab adalah ibu kota provinsinya. Pada 2002, populasi wilayah Arakan mencapai 4 juta jiwa dan 70 persennya adalah Muslim. Kata Arakan berasal dari Arkan (Rukun) yang telah dihuni Muslim selama lebih dari 350 tahun sebelum invasi Burma.

Nama Rohingya yang kemudian diasosiasikan sebagai umat Muslim di Myanmar itu diambil dari nama kuno untuk daerah Arakan. Ada juga yang mengatakan bahwa istilah ini berasal dari kata “rahma” (rahmat) dalam bahasa Arab atau “rogha” (perdamaian) dalam bahasa Pashtun. Selain itu, ada pula yang mengaitkannya dengan wilayah Ruhadi Afghanistan yang dianggap sebagai tempat asal Rohingya.

Secara genealogis bangsa Rohingya adalah keturunan India. Mereka menempati Arakan sejak sebelum Masehi. Dahulu mereka pemeluk agama Hindu, Budha Mahayana dan Animisme.  Ketika para pedagang dari Arab datang ke Arakan tahun 788 M, mereka mulai pindah kepada agama Islam.  Pribumi India yang telah masuk Islam ini kemudian bergaul dengan para pemukim asing seperti Arab, Persia, Turki, Pathan, Bengali dan Mongolia. Pemukiman mereka terus berlanjut sepanjang sejarah. Oleh karena itu, Rohingya bukanlah masyarakat dari satu ras,  tetapi berasal multi-rasial.  Namun, sebagian besar Rohingya memang merupakan keturunan India.

Pada 1406 M. Raja Naramakhbala yang merupakan penguasa Arakan, sedang dalam kondisi sulit karena mendapat serangan dari Raja Burma. Untuk bisa mengatasi situasi sulit itu, sang raja kemudian mengungsi dan meminta bantuan kepada Sultan Nasiruddin dari Bengal. Dalam prosesnya, setelah 24 tahun, Raja Naramkhbala kemudian memeluk Islam. Namanya pun berganti menjadi Suleiman Shah. Dengan bantuan dari Bengal, Raja Arakan itu berhasil merebut kembali kerajaannya dari Raja Burma.

Tahun 1420 M adalah era monumental. Karena pada saat itulah, Arakan dideklarasikan sebagai sebuah negara Islam di bawah kepemimpinan Suleiman Shah. Kekuasaannya bertahan hingga 350 tahun. Hingga pada 1784, negara Arakan kembali dikuasai oleh Pasukan Buddha dari Burma. Arakan kemudian dimasukkan ke wilayah Burma karena takut dengan perkembangan penyebaran Islam. Peninggalan sejarah Islam berupa masjid dan madrasah dihancurkan. Tidak hanya itu, ulama dan da’i-pun dibunuh.

Setelah itu daerah Arakan dikuasai Inggris pada tahun 1824. Pada tahun 1947 M, menjelang kemerdekaan Burma diadakan kofrensi di kota Peng Long untuk persiapan menyambut kemerdekaan. Semua etnis diundang dalam acara tersebut kecuali muslimin Rohingya untuk menjauhkan mereka dari kelangsungan sejarah dan penentuan nasib mereka. Pada tanggal 4 Januari tahun 1948 M, Inggris memberikan kemerdekaan kepada Burma dengan syarat memberikan kemerdekaan pula kepada seluruh etnis setelah 10 tahun. Pemerintah Burma sempat menjanjikan Arakan akan menjadi daerah yang diberikan otonomi khusus. Akan tetapi orang-orang Burma ingkar janji, di mana Burma terus menjajah muslim Rohingya Arakan serta melakukan praktek keji terhadap muslimin. Hak asasi manusia Muslim Rohingya dilanggar. Keadaan semakin buruk ketika Junta Militer berkuasa. Upaya pembersihan terhadap umat Muslim atau kaum Rohingya pun dilakukan. Mereka ingin mengganti populasi umat Muslim di daerah itu dengan populasi umat Buddha. Kemudian, dalam serangkaian serangan, Muslim dibunuh secara brutal dan dihapus paksa dari sebagian besar dari 17 kota di Arakan. Sekarang Muslim tersisa dalam 3 sampai 4 kota. Kehidupan mereka sehari-hari seperti di sebuah penjara terbuka.

Populasi Muslim di Myanmar

Populasi umat Islam yang ada di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab, Persia, Turki, Moor, Pakistan dan Melayu. Selain itu, beberapa warga Myanmar juga menganut agama Islam seperti dari etnis Rakhin dan Shan.

Populasi Islam di Myanmar sempat meningkat pada masa penjajahan Britania Raya, dikarenakan banyaknya umat Muslim India yang bermigrasi ke Myanmar.Tapi, populasi umat Islam semakin menurun ketika perjanjian India-Myanmar ditandatangani pada tahun 1941.

Komunitas Muslim yang terdapat di Myanmar yaitu: 1) Muslim Burma atau Zerbadee, merupakan komunitas yang paling lama berdiri dan berakar di wilayah Shwebo. Diperkirakan mereka merupakan keturunan dari para mubalig yang datang dari timur tengah dan Asia selatan serta penduduk muslim awal yang kemudian beranak pinak dengan masyarakat Burma. 2) Muslim India, Imigran Keturunan India, merupakan komunitas muslim yang terbentuk seiring kolonisasi Burma oleh Inggris. 3) Muslim Rohingya (Rakhine) yang bermukim di Negara bagian Arakan atau Rakhine, yang berbatasan dengan Bangladesh.

Sebagian besar Muslim di Myanmar bekerja sebagai penjelajah, pelaut, saudagar dan tentara. Beberapa diantaranya juga bekerja sebagai penasehat politik Kerajaan Burma.

Pembantaian Muslim Myanmar

Burma atau Myanmar selalu indentik dengan Aung San Suu Kyi. Orang tak pernah tahu bagaimana perjuangan dan kondisi Muslim Burma selama ini. Kelompok aktivis hak asasi manusia internasional hanya membicarakan Suu Kyi, padahal SLORC (State Law and Order Restoration Council—atau Dewan Restorasi Penguasa dan Hukum Negara) melakukan banyak tindakan brutal terhadap Muslim Burma. Opresi Burma mulai muncul ke permukaan pada 1998 seiring dengan munculnya Suu Kyi yang mendapatkan penghargaan perdamaian Nobel di tahun 1991.

Tahun 1886, Inggris menjajah Burma, dan sebelumnya umat Muslim dan Hindu di negara ini hidup berdampingan dalam damai. Tahun 1938, Inggris mulai menurunkan tangan besinya. Lebih dari 30.000 Muslim Burma dibunuh secara massal, dan 113 masjid diberangus. Setelah kemerdekaan Burma tahun 1948, nasib bangsa Muslim tidak juga berubah. Mereka menjadi korban kekerasan pemerintah dan militer, dan jumlahnya bahkan sampai 90.000 ribu orang yang tewas.

Tahun 1961, pemerintah Burma menyatakan bahwa Budha adalah agama negara dan semua orang Islam harus belajar nilai dan budaya agama Budha. Lewat kudeta militer, Jenderal Ne Win mendeklarasikan Burma sebagai Negara sosialis.

Tahun 1982, Ne Win menyatakan Muslim Rohingya sebagai pendatang ilegal. Sementara diskriminasi terhadap Muslim Burma terus berjalan tanpa diketahui banyak oleh dunia internasional. Tahun 1990 Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu untuk pertama kalinya. Namun SLORC, tidak mengakui kemenangan Suu Kyi dan sebaliknya menangkap dan memenjarakannya. Bukan hanya pada Suu Kyi, SLORC juga kejam terhadap Muslim Burma. Mereka tak segan menembak langsung ditempat jika mendapati orang Islam sedang shalat di masjid. Para Muslimah Rohingya juga kerap dijadikan sasaran pemerkosaan oleh tentara Burma.

Tanggapan dunia internasional, misalnya: AS mengecam pemerintah Burma karena penangkapan dan penyiksaan aktivis kemanusiaan seperti Suu Kyi, namun di sisi lain mengabaikan nasib Muslim Burma yang jelas-jelas menjadi korban kebiadaban yang tak berkesudahan. Saat ini, perjuangan Muslim Burma terkumpul dalam The Rohingya Solidarity Alliance, sebuah front militer Islam. Mereka terus berjuang melawan ketidakadilan dan penindasan yang diberlakukan oleh rezim-rezim yang tak punya rasa kemanusiaan. (eramuslim).

Minoritas Muslim Myanmar yang Terlupakan

Awal masuknya Islam di Myanmar serta perkembangan umat Islam disana umumnya tidak terlalu mendapat perhatian dari masyarakat dunia. Sedikit sekali masyarakat Internasional yang mengangkat isu penderitaan muslim Myanmar.

Dinamika Muslim Myanmar 1940-1970

Imigrasi India dan bangkitnya nasionalisme menciptakan ketegangan yang signifikan di antara ketiga komunitas muslim di Burma itu, begitu pula antara muslim dan mayoritas Budha. Sementara itu, banyak muslim India terlibat dalam berbagai organisasi dan perkumpulan-perkumpulan yang terkait dengan asal mereka di anak benua India. Kaum muslim Burma yang telah lama terbentuk cenderung mengambil sikap sama dengan mayoritas Budha dan mendukung gerakan nasionalis Burma.

Muslim Rakhine tetap terlepas dari keduanya dan terus mengembangkan sejarah mereka sendiri, terpisah dari kedua komunitas lainnya. Setelah Burma merdeka pada 1948, ketiga komunitas muslim di atas memiliki peran yang berbeda.

Komunitas yang pertama yaitu muslim Burma mendapat tempat dalam pemerintahan Perdana Menteri U Nu. Sedangkan kaum muslim India yang lebih berpandangan keluar dan berorientasi pada peniagaan merasa hidup lebih sulit setelah kemerdekaan. Mereka kemudian mencari persekutuan politik dengan politisi-politisi Burma atau kembali ke India dan Pakistan. Setelah nasioalisasi ekonomi besar-besaran oleh pemerintahan Dewan Revolusioner Ne Win pada 1963, ratusan ribu orang Asia Selatan, termasuk kaum muslim, kembali ke Negara asal mereka. Namun, masih terdapat komunitas muslim dalam jumlah yang signifikan tersisa di Yangon dan kota-kota lain di selatan Myanmar.

Catatan Kelam

Dibandingkan dengan muslim Zerbadee dan muslim India, kedudukan muslim Rakhine (Rohingya) tergolong yang paling sukar. Salah satu akar konflik menahun itu adalah status etnis minoritas Rohingya yang masih dianggap imigran ilegal di Myanmar. Pemerintah Myanmar tak mengakui dan tak memberi status kewarganegaraan kepada mereka. Mereka merupakan komunitas yang paling miskin yang ada di Burma. Selain itu, mereka juga disulitkan oleh peperangan, dislokasi, dan perselisihan. Sebagai akibat tiadanya kewarganegaraan, etnis Rohingya tak bisa mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan bahkan pekerjaan yang layak. Mereka betul-betul terabaikan dan terpinggirkan.

Pemerintah Myanmar tak mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya karena menganggap kelompok Muslim ini bukan merupakan kelompok etnis yang sudah ada di Myanmar sebelum kemerdekaan Myanmar pada 1948. Hal itu ditegaskan kembali oleh Presiden Myanmar, Thein Sein, dalam Al Jazeera, 29 Juli 2012 bahwa Myanmar tak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada kelompok Rohingya yang dianggap imigran gelap dan pelintas batas dari Bangladesh itu.

Akar konflik yang lain adalah adanya kecemburuan terhadap etnis Rohingya. Populasi etnis Muslim Rohingya dalam beberapa dasawarsa ini terus meningkat. Bagi mereka, keberadaan etnis Rohingya pun sangat mungkin dianggap kerikil dalam sepatu, yakni sesuatu yang terus mengganggu. Keberadaan etnis Rohingya dianggap mengurangi hak atas lahan dan ekonomi, khususnya di wilayah Arakan, Rakhine yang menjadi pusat kehidupan etnis Muslim ini.

Dalam catatan PBB, Rohingya hanya disebut sebagai penduduk Muslim yang tinggal di Arakan, Rakhine, Myanmar. Dari sudut kebahasaan, bahasa yang diklaim sebagai bahasa Rohingya sebenarnya termasuk ke dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, khususnya kerabat bahasa Indo-Arya. Lebih detail lagi, bahasa Rohingya dikategorikan sebagai bahasa-bahasa Chittagonia yang dituturkan oleh masyarakat di bagian tenggara Bangladesh. Sementara itu, kebanyakan bahasa di Myanmar tergolong rumpun Tai Kadal, Austroasiatik, atau Sino-Tibetan. Jadi, jelas bahwa kelompok etnis Rohingya merupakan keturunan etnis Bengali, khususnya sub-etnis Chittagonia yang tinggal di Bangladesh tenggara.

Terlepas dari apakah Rohingya merupakan sebuah etnis atau tidak, dan apakah termasuk ke dalam etnisitas Myanmar atau tidak? Sudah jelas bahwa Rohingya merupakan komunitas migrant dari Bangladesh yang sudah ratusan tahun tinggal di  Arakan, Rakhine, Myanmar. Sebagai komunitas yang sudah lama menetap di sebuah wilayah yang kebetulan kini menjadi bagian dari negara Myanmar, tentu saja sudah selayaknya mereka mendapatkan hak-hak dasar mereka, terutama status kewarganegaraan. Meskipun demikian, sikap pemerintah Myanmar sudah jelas seperti yang disampaikan Thein Sein bahwa Myanmar tak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada Rohingya. Namun, Myanmar menawarkan solusi berupa pengiriman ribuan orang Rohingya ke negara lain atau tetap tinggal di Arakan, tetapi berada di bawah pengawasan PBB. Jadi, kelihatannya etnis Rohingya masih belum bisa bernapas lega sampai beberapa tahun mendatang.

Pada tahun 1942 terjadi peristiwa yang sangat memilukan bagi umat Islam, gerakan anti Islam yang dilancarkan oleh penganut Budha melakukan pembantai besar-besaran terhadap muslim di Arakan yang mengakibatkan kematian sekitar 100.000 umat Islam sedangkan sebagian lainnya mengalami cacat dan tidak diizinkan untuk menempati rumah dan tanah mereka sendiri. Ratusan ribu lainnya diusir keluar Arakan. Saking hebatnya pembantaian itu, orang-orang tua senantia mengingat dan menceritakan tragedi itu serta menjadi sejarah. Akibat penindasan dan diskriminasi yang mereka alami, setelah perang dunia II kaum muslim ini menuntut agar bagian utara dari wilayah Arakan yaitu Buthidaung dan Maungdaw yang mereka tempati dimasukkan ke Pakistan.

Namun pemerintah menolak tuntutan tersebut, sehingga terjadilah perselisihan bersenjata antara pasukan “Mujahid” yang dibentuk oleh muslim Rohingya dengan pasukan pemerintah.

Allah SWT berfirman :

….mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup… (QS. Al Baqarah 217).

Ayat di atas jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa kaum kafir, apapun agama dan ideologi mereka, manakala mereka berkuasa, mereka akan menindas dan membantai kaum muslim untuk membersihkan etnis muslim dari wilayah kekuasaan mereka. Kecuali kaum muslim itu murtad, alias kembali kepada kekufuran seperti mereka.

Ayat di atas turun terkait dengan peperangan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada kaum muslimin generasi pertama. Kaum muslim di Andalusia setelah berjaya di sana selama delapan abad dan memberikan warisan budaya tiada tara hingga menjadi bekal pencerahan bagi Eropa, justru dibantai habis oleh penguasa Nasrani pada saat mereka berhasil mengambil kekuasaan atas Andalusia dari kaum muslimin. Demikian juga di Philipina. Manila adalah kota yang didirikan oleh Sultan Sulaiman.  Namun kaum Katolik dari Spanyol Andalusia telah menguasai Manila dan seluruh Philipina, hingga kaum muslimin terdesak di Selatan Pihilipina dan mereka perangi hingga hari ini.  Tragedi Bosnia tahun 1993 telah membuka mata kita bahwa kaum kafir Serbia Yugoslavia tidak ingin muslim Bosnia lahir sebagai negara merdeka. Seperti itulah nasib kaum muslim Rohingya di Arakan Myanmar.

Penderitaan Muslim Myanmar

Lebih dari 5.000 orang dibunuh dengan berbagai cara dan lebih dari 120.000 muslim digusur dari tanah mereka sendiri. Kaum muslim terpaksa tinggal di kamp-kamp konsentrasi di pinggiran Sittwe. Para wanita dan anak perempuan muslimah di bawah umur diperkosa oleh militer dan lain-lain. Properti kaum muslim dijarah setiap hari, Masjid dan tempat-tempat religi mereka ditutup. Ini akan segera menjadi tahun dimana mereka tidak bisa sholat di Masjid. Orang-orang muslim berpendidikan dan orang-orang tak bersalah lainnya telah ditahan tanpa kesalahan apapun. Sejumlah besar uang muslim selalu diperas setiap hari. Muslim disiksa secara tidak manusiawi di sel-sel rahasia. Akses muslim terhadap makanan dan obat-obatan diblokir. Mereka mati kelaparan dan kini terjadi wabah penyakit yang marak di antara mereka.

Muslim dihilangkan hak kewarganegaraannya, di mana KTP mereka sebagai identitas resmi dihapus dan digantikan dengan kartu yang menerangkan bahwa mereka bukan warga Negara. Siapa yang menolak, maka nasibnya akan mati di penjara di bawah siksaan atau kabur keluar wilayah dan menjadi DPO.

Mereka juga disuruh kerja paksa mendirikan barak militer dan jalan untuk pemerintah tanpa diberi upah. Bahkan diberi makan dan minum untuk memberikan kekuatan bekerja pun mereka idak mendapatkannya.

Putera-putera muslim dilarang melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah atau memasuki kampus-kampus. Jika ada yang melanjutkan keluar, maka akan dimasukan dalam pendataan desa. Saat ia kembali, ia pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Di samping itu, mereka dilarang bekerja jadi pegawai pemerintah. Bahkan orang yang lama bekerja dari zaman penjajahan, akan dipecat dari kepegawaian. Kecuali di beberapa desa dan pekerjaan yang dibutuhkan untuk membantu militer. Mereka pun bekerja tanpa gaji.

Orang-orang Islam dilarang menerima tamu, meskipun saudara atau kerabat mereka. Kecuali telah mendapatkan izin. Adapun bertamu dan bermalam, maka hal itu dilarang sama sekali serta dianggap kejahatan besar dan mendapatkan hukuman yang berat dengan rumah penerima tamu dihancurkan.

Pengusiran terjadi pada tahun-tahun berikut:

  1. Tahun 1962 M, yaitu revolusi militer fasis, di mana 300 ribu muslim lebih diusir ke Bangladesh.
  2. Tahun 1978 M, lebih dari 500 ribu muslim dalam kondisi yang memperihatinkan. 40.000 jiwa melayang dari kalngan orang tua, anak-anak dan wanita. Ini menurut statistik Badan Bantuan Pengungsi PBB.
  3. Tahun 1988 M, 150 ribu muslim lebih diusir karena pembangunan desa-desa Buddh untuk perubahan demografi penduduk.
  4. Tahun 1991 M, hampir 500 ribu muslim diusir. Pengusiran setelah penghapusan hasil pemilu, di mana oposisi memenangkan suara. Karena mereka memilih Partai Demokrat Nasional (NLD) Oposisi.

2

Puluhan warga Rohingya yang terdampar di Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, tiba di pelabuhan Lampulo Banda Aceh

Pada 20 Maret 2013, sepasang suami istri Burma pergi ke toko perhiasan seorang Muslim di Meikh-Htilla Township, Mandalay Division, untuk menjual emas palsu mereka. Ketika pemilik toko Muslim menolak membelinya orang Burma itu menghina pemilik toko.  Perkelahian terjadi.  Istri penjual emas palsu itu melaporkan bahwa suaminya terluka. Mereka menuju ke desa dan kembali lagi dengan membawa orang-orang kampung untuk menyerang kaum muslim di kota. Menurut beberapa orang, penjual emas palsu adalah intel Militer Burma yang menghasut kekerasan selama berminggu-minggu.

Dalam serangan itu, sekitar 15 Masjid yang dihancurkan dan hampir semua tempat tinggal Muslim dibakar.  Sekitar 100 Muslim tewas dan ribuan orang mengungsi. Kini, penguasa tidak mengijinkan pengungsi Muslim kembali ke tanah asli mereka dan tanpa belas kasihan mereka ditahan di lapangan terbuka. Kekerasan anti-Muslim menyebar ke kota-kota lain di Myanmar.  Mereka menghadapi bencana serupa yang  dialami Muslim di Arakan selama berbulan-bulan. Gerakan anti-Muslim di Myanmar dipimpin oleh biksu Buddha sepanjang waktu.

3

Sisa-sisa kerusuhan di Myanmar

 4

Demikianlah kekerasan anti-Muslim di Myanmar yang terhitung sebagai Kejahatan terhadap Kemanusiaan (Crimes against Humanity) dan Pembersihan etnis (Ethnic Cleansing) terhadap kaum muslim Rohingya dilaporkan oleh  Human Rights Watch (HRW) baru-baru ini.

Negara-negara Islam pada tanggal 24 Juli 2013 mengimbau pemimpin Perserikatan Bangsa Bangsa, Ban Ki-moon, berbuat lebih banyak untuk menghentikan apa yang mereka katakan ‘kekejaman’ terhadap umat Muslim yang bertahan di Myanmar. Mereka menuntut tindakan lebih oleh PBB khususnya atas nasib Muslim Rohingya.

“Myanmar memiliki madu dengan dunia. Satu-satunya masalah adalah bahwa bulan madu sedang dibangun di atas tubuh para korban Muslim di negara itu,” kata Duta Besar Arab Saudi di PBB, Abdullah al-Mouallemi.

Editor : Gestin Mey Ekawati/25072013

Sumber:

http://bangvandawablog.blogspot.com/2012/07/sejarah-islam-di-myanmar.html#ixzz28mkigrB3

http://mizan.com/news_det/mengenal-etnis-rohingya-dari-sudut-pandang-sejarah.html

www.suara-islam.com/read/index/7136/Pembersihan-Etnis-Muslim-di-Myanmar-

http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2013/04/21/24089/sejarah-islam-arakan-kejahatan-budha-burma-pada-muslim-rohingya/

4 thoughts on “Islam Myanmar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s