Islam Laos

Komunitas Muslim di Laos merupakan minoritas kecil di negara mayoritas Buddha dan mencakup sekitar 0,01% dari populasi. Jumlah muslim Laos tidak lebih dari sekitar 800 hingga 1000 jiwa, 200 jiwa diantaranya adalah muslim asli Laos. Bila dibandingkan dengan hampir 7 juta total penduduknya jumlah tersebut nyaris tak terlihat dan menjadikan Laos sebagai negara Asean dengan penduduk muslim paling sedikit.

 1

Sejarah

Semasa Laos menjadi wilayah jajahan Prancis di Indochina (dikenal dengan sebutan French-Indochina), muslim dari berbagai wilayah kekuasaan kolonial Prancis turut meramaikan komunitas muslim di Laos dan kemudian juga menarik penduduk asli untuk turut ber-Islam. Sejarah Islam di Laos juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam di Indochina terutama dalam keterkaitannya dengan sejarah kerajaan Islam Champa yang berpusat di Vietnam.

Sejarah mencatat, Islam masuk ke Laos sekitar abad ke-18. Orang-orang dari Tamil, Selatan India, yang pertama kali membawa Islam ke Laos. Kebanyakan Muslim Tamil adalah laki-laki yang bekerja sebagai penjaga dan buruh. Ada pula yang berdagang, yakni menjual kosmetik yang mereka impor dari Cina, Vietnam, dan Thailand. Sebagian besar dari mereka tinggal di Vientiane, Ibu Kota Laos. Mereka juga menyebar dan tinggal di tiga kota besar Laos lainnya, yakni Luang Prabang, Pakse, dan Savannakhet.

Islam juga dibawa masuk oleh Muslim dari Pakistan. Banyak dari mereka yang bekerja untuk pasukan Inggris dan ditempatkan di Myanmar selama Perang Dunia pertama. Lokasi Myanmar yang berdekatan dengan Laos membuat Muslim Pakistan yang kerap dipanggil Pakhtun mudah menyebarkan Islam di Laos. Muslim Pakhtun adalah kelompok etnis Muslim yang cukup besar di Laos. Kebanyakan dari mereka kini telah menjadi penduduk Laos dan menikahi perempuan Laos. Sebagian laki-laki Pakhtun bekerja sebagai pegawai negeri dan polisi. Sejumlah lainnya memiliki toko pakaian atau lahan pertanian.

Pedagang Cina dari Yunan pun berkontribusi terhadap perkembangan Islam di Laos. Saudagar China ini yang diyakini memperkenalkan Islam kepada rakyat Laos. Para saudagar Cina ini bukan hanya membawa dagangannya ke Laos, namun juga ke negara tetangganya seperti Thailand dan Myanmar.  Oleh masyarakat Laos dan Thailand, para pedagang asal Cina ini dikenal dengan nama Chin Haw. Peninggalan kaum Chin Haw yang ada hingga hari ini adalah beberapa kelompok kecil komunitas Muslim yang tinggal di dataran tinggi dan perbukitan. Mereka menyuplai kebutuhan pokok masyarakat perkotaan.

Pada pertengahan tahun 1960-an, populasi Muslim di Laos hampir semuanya berasal dari Asia Selatan. Jumlahnya ketika itu diperkirakan mencapai 7.000 orang. Namun, peperangan yang pecah di Laos, membuat mereka hijrah ke negara lain. Meski demikian, sejumlah Muslim Tamil tetap tinggal karena mereka miskin dan tidak punya uang untuk pindah ke tempat lain.

Selanjutnya, pada 1980, Muslim Cham dari Kamboja yang lolos dari Khmer Merah membanjiri Laos meski sebenarnya, Muslim Kamboja telah datang ke Laos pada 50 tahun sebelumnya. Mereka tinggal di Vientiane dan kebanyakan hidup dari menjual obat-obatan herbal yang mereka datangkan dari Kamboja. Kini, di Laos, diperkirakan ada sekitar 200 orang Muslim asal Kamboja.

Sekitar 60 persen penduduk Laos ber-etnis Lao dan sebagian besar dari mereka memeluk agama Buddha Theravada. Sejumlah kecil etnis Lao dari komunitas Hmong dan Khmu yang minoritas, masih mempertahankan kepercayaan animisme. Komunitas Hmong merupakan komunitas yang loyal terhadap Raja Savang Vatthana (raja Laos terahir), jumlah mereka menyusut drastis paska tergulingnya sang raja dalam kudeta yang dilakukan kelompok komunis Pathet Lao di tahun 1975.

Kelompok komunis Pathet Lao kemudian mengubah kerajaan Laos menjadi negara komunis dengan nama resminya Lao People’s Democratic Republic (Lao PDR) dan menjadi salah satu negara di dunia yang masih menggunakan sistem pemerintahan komunis, meskipun begitu kehidupan beragama di Laos dijamin oleh negara secara resmi melalui dekrit perdana menteri nomor 92 tanggal 5 Juli 2002.

 2

Muslim di Laos

Muslim di Laos saat ini cukup multi etnis namun berbaur menjadi satu sebagai komunitas muslim Laos. Berdasarkan latar belakang etnis, muslim di Laos dapat di kelompokkan ke dalam beberapa kelompok yang masing masing memiliki latar belakang sejarahnya sendiri sendiri.

Perkembangan Islam di Laos

Pertumbuhan populasi Muslim di negeri ini tidak tumbuh secara signifikan. Sejumlah kendala menghadang umat Islam di Laos. Seperti dikatakan Imam Masjid Azhar, Vientiane, Muhammad Vina bin Ahmad Imam, di Laos tak ada satu pun buku berbahasa Laos yang mendiskusikan tentang Islam. “Tidak ada seorang pun yang berinisiatif untuk memproduksi literatur Islam,” ujarnya.

Untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang Islam, Muslim Laos hanya memiliki sedikit alternatif, yakni buku bacaan Islam, termasuk Alquran, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand, bukan Laos. Meski bahasa Thailand cukup mirip dengan Laos, namun keadaan ini ditakutkan dapat melunturkan ketertarikan orang Laos terhadap agama Islam.

Di tengah tantangan semacam itu, cukup mengangetkan bila ada orang Laos yang mengetahui tentang Islam, mereka memutuskan untuk meninggalkan agama lamanya lalu menjadi Muslim. Kebanyakan dari mereka menjadi mualaf karena menikah dengan Muslim. Namun, ada juga yang pindah agama karena upaya mereka mencari tahu tentang Islam. Di antara mereka, banyak yang khusus mempelajari studi Islam di Universitas Malaysia.

Meski hanya kelompok minoritas, umat Islam di Laos tidak menjadi sasaran diskriminasi. Presiden Asosiasi Muslim Laos, Muhammad Rafiq alias Sofi Seng Sone, menyatakan hubungan Muslim dengan pemerintah Laos sangat baik. Tidak ada masalah terkait hubungan antaragama. Masyarakat Laos pada umumnya sangat ramah dan perhatian. Penerimaan itulah yang membuat Muslim di Laos dapat dengan mudah membangun masjid untuk beribadah.

Muslim asal Kamboja misalnya, memiliki masjid sendiri yang bernama Masjid Azhar. Masyarakat lokal mengenalnya dengan nama Masjid Kamboja. Masjid ini berlokasi di sebuah sudut di Distrik Chantaburi yang berjarak sekitar empat kilometer dari pusat Kota Vientiane. Meskipun dibangun oleh Muslim Kamboja, namun masjid ini juga banyak dikunjungi jamaah Muslim dari berbagai negara. Jamaah tetap di masjid ini kebanyakan warga dari negara tetangga, juga para diplomat dari negara Muslim di Vientiane, seperti dari Malaysia, Indonesia, dan Palestina.

Bangunan masjid ini cukup sederhana, namun dilengkapi dengan madrasah untuk anak-anak Muslim belajar agama Islam. Keberadaan masjid ini di Vientiane tidak diprotes oleh masyarakat sekitar. Bahkan, ketika azan berkumandang, komunitas non-Muslim di Vientiane tak merasa terganggu..

 3

Muslim Chin Haw juga memiliki masjid sendiri di Laos. Masjid tersebut terletak di ruas jalan yang terletak di belakang pusat air mancur Nam Phui. Masjid ini dibangun dengan gaya neo-Moghul dengan ciri khas berupa menara gaya oriental. Masjid ini juga dilengkapi pengeras suara untuk azan.

Sementara, Muslim Tamil dan Pakhtuns biasa beribadah di Masjid Jami yang terletak di jantung Kota Vientiane. Masjid ini memiliki kemiripan dengan masjid mereka di Tamil. Khotbah shalat Jumat di masjid tersebut biasanya disampaikan dalam dua bahasa, yaitu Urdu dan Tamil. Masjid ini juga dilengkapi dengan ruangan khusus untuk mengajarkan bahasa Arab dan ajaran keislaman kepada anak-anak.

Komunitas Muslim di luar Vientiane juga bisa merasakan kehadiran masjid di komunitas mereka. Misalnya saja, sebuah masjid kecil di Sayaburi atau di tepi barat Mekong tak jauh dari Nan. Sayaburi dulu pernah dinyatakan sebagai daerah tertutup bagi orang asing.

 4

Makanan Halal

Mencari makanan halal pun bukan perkara yang terlalu sulit. Setiap kota besar di Laos setidaknya memiliki satu restoran India yang dikelola oleh Muslim Tamil. Seorang Muslim India yang membuka restoran adalah Muhammad Nazimuddin alias Samsack Sivi lay. Nazim memiliki enam restoran India di Laos. Restoran halal yang dibukanya tentu memberikan angin segar bagi para Muslim. Hal ini karena kebanyakan restoran di Laos menyediakan makanan dengan bahan dasar daging yang tak lazim dikonsumsi Muslim, seperti katak, ular, anjing, dan musang.

Beberapa restoran halal terletak di kawasan Taj off Man Tha Hurat Road. Beberapa lainnya berdiri di persimpangan jalan Phonxay dan Nong Bon Roads. Selain melayani komunitas Muslim, mereka juga menyediakan jasa katering bagi petugas kedutaan yang beragama Islam.

Pekerjaan

Populasi Muslim sebagian besar bergerak di perdagangan, seperti pedagang tekstil serta mengelola toko daging. Banyak Muslim Laos yang bekerja sebagai penjual daging halal. Untuk membedakan kios daging mereka dari kios daging lain yang menjual daging babi, para penjual yang beragam Islam memasang lambang bulan sabit atau tanda dalam bahasa Arab.

Selain itu, profesi lainnya adalah nelayan ataupun sebagai tukang jagal di rumah makan. Warisan etnis ini sangat kental terasa di rumah rumah makan yang dikelola oleh muslim keturunan India selatan serta rumah makan dan kedai makanan milik muslim keturunan Afrika Utara yang menyediakan kuliner khas Afrika Utara berupa couscous dan kebab.

Editor: Gestin Mey Ekawati/26072013

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Laos

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/06/08/m5b08x-muslim-laos-di-tengah-rezim-komunis-3

http://bujangmasjid.blogspot.com/2012/10/islam-dan-masjid-di-laos-bagian-1.html

http://senyumislam.wordpress.com/2012/10/31/muslim-laos-minoritas-yang-tak-tertindas/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s