Islam Thailand

Sejarah dan Perkembangan Islam Thailand

Thailand biasa disebut juga Muangthai, Siam, atau negeri gajah putih, terletak di sebelah utara Malaysia, dan sering dilukiskan sebagai bunga yang mekar diatas sebuah tangkai. Thailand adalah negeri yang merdeka, karena memang merupakan satu-satunya negeri di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh kekuasaan barat atau Negara lain. Di Thailand, negeri yang mayoritasnya beragama Budha, terdapat lebih dari 10% penduduk muslim dari seluruh populasi penduduk Thailand yang berjumlah kurang lebih 67 juta orang sekitar 7,4 juta. Pertumbuhan pemeluk agama Islam di negeri ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

1

 Surat Thani Mosque

Islam masuk ke Thailand pada abad ke-10 Masehi melalui para pedagang dari Jazirah Arab. Terdapat salah satu bukti yaitu lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand. Penduduk setempat dapat menerima ajaran Islam dengan baik tanpa paksaan. Kawasan Thailand yang banyak dihuni umat muslim adalah wilayah bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Sebagian besar muslim di negeri ini tinggal di Thailand bagian selatan, yang banyak berada di propinsi Yala, Narattiwat, dan Pattani, Satun, dan Songkhla. Selain itu, umat muslim juga tersebar di beberapa wilayah lain, seperti di propinsi Pattalung, Krabi, dan Nakorn Srithammarat.

 2

Pattani adalah salah satu wilayah Thailand yang pernah mengukir sejarah gemilang kejayaan Islam. Pada abad ke-15, negeri ini menjadi sebuah negara Islam terbesar di Asia Tenggara dengan nama Kerajaan Islam Pattani Darussalam. Keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah Pattani menjadi bukti bahwa Islam sudah ada lebih dulu sebelum Kerajaan Thai. Orang Arab menyebutnya Al Fathoni.

Pattani jatuh ke tangan Thailand pada tahun 1785 setelah kerajaan Thailand mengirimkan intelijen untuk mencari rahasia kelemahan Pattani. Makar Thailand sangat licik sehingga akhirnya berhasil meruntuhkan kekuasaan Pattani. Sultan Muhammad, raja Pattani gugur sebagai syahid di medan pertempuran.

Etnis Muslim di Thailand

Populasi Muslim Thailand adalah beragam dan multikultural, dengan kelompok etnis telah bermigrasi dari sejauh Cina, Pakistan, Kamboja, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia, serta terdiri dari penduduk asli Thailand, sementara sekitar dua pertiga dari Muslim di Thailand etnis Melayu.

Penduduk Asli Thailand

Banyak umat Islam Thailand berasal dari Muslim keturunan, perkawinan dengan umat Muslim, atau mualaf. Etnis Muslim Thailand hidup terutama di provinsi Tengah dan Selatan – bervariasi dari seluruh komunitas Muslim untuk pemukiman campuran. Mantan Komandan Kepala Angkatan Darat Kerajaan Thailand Jenderal Sonthi Boonyaratglin adalah contoh dari penduduk asli Thai Muslim.. Sonthi adalah keturunan Persia terpencil. Leluhurnya, Sheikh Ahmad Qomi adalah seorang pedagang ekspatriat Iran yang tinggal di Ayutthaya Raya selama 26 tahun.

Banyak warga Thailand, termasuk orang-orang dari keluarga Bunnag dan Ahmadchula merunut nenek moyang mereka kepadanya.

Muslim Melayu

Dalam tiga provinsi perbatasan Key, sebagian besar penduduk Muslim lokal didominasi dari Melayu. Orang-orang ini, yang dikenal sebagai Yawi, berbicara dengan dialek Melayu. Tingginya jumlah penduduk asal Malaysia di wilayah selatan adalah karena sifat sejarah daerah, yang dulu dikenal sebagai Pattani Raya, sebuah kerajaan Melayu Islam yang didirikan pada abad kesembilan belas, namun kemudian dianeksasi ke Siam (nama lama Thailand ). Demikian pula, ada etnis minoritas Thailand di Malaysia Utara.

Muslim Cina

Di ujung utara, serta di daerah tertentu di perkotaan Tengah dan Selatan, ada kantong Thai Muslim asal Cina Hui.

 3

Pai Mosque

Kelompok Muslim Burma

Kelompok etnis Burma, seperti Rohingya adalah pengungsi dan migran ekonomi yang tersebar diseluruh kampung pengungsi Thailand, desa-desa nelayan pedesaan, serta di banyak kota-kota kecil dan kota-kota dekat perbatasan Myanmar.
Thailand bagian untara menjadi rumah bagi banyak Muslim Cina dan juga Muslim Burma, serta campuran Cina-Burma atau Pakistan-Burma.

Kelompok Muslim Asia Lainnya

Kelompok yang ada lainnya termasuk Muslim Cham (dari Kamboja), dari Asia Selatan (India, Bangladesh, dan Pakistan) dapat ditemukan di seluruh Thailand yang bekerja di profesi mulai dari pemilik bisnis kaya sampai buruh. Kelompok-kelompok lain termasuk umat Islam Indonesia, khususnya Bugis, Jawa dan Minangkabau.

Politik

Dalam bidang politik, pemerintahan Thailand yang didominasi penganut Budha sangat meminggirkan umat Islam. Salah satu kebijakan pemerintah Thailand yang merugikan umat Islam adalah pernah memerintahkan kepada umat Budha agar menyebar ke daerah selatan Thailand yang dihuni oleh umat Islam untuk mengimbangi dan menggembosi kiprah umat Islam. Dalih mereka adalah umat Islam dituduh sebagai penyebab timbulnya berbagai masalah politik dan sosial. Suatu dalih yang terlalu dibuat-buat dan sama sekali tidak berdasar fakta.

Latar belakang sejarah wilayah selatan Thailand yang mayoritas muslim sangat berbeda dengan wilayah utara (Siam) yang mayoritas Budha. Secara budaya dan penampakan fisik, muslim lebih dekat kepada masyarakat Melayu. Jika kita melihat sejarah yang telah berlalu, wilayah-wilayah tersebut tadinya memang bukan merupakan bagian dari Thailand. Namun sejak tahun 1808, Thailand menjadikannya sebagai wilayah kekuasaannya.

Daerah Pattani misalnya, negeri ini tidak merasa menjadi bagian dari Siam, karena baik secara ideologi, budaya, maupun agama jelas tidak sama karena Thailand merupakan negeri Budha yang menganggap raja sebagai keturunan dewa. Sehingga banyak ritual syirik yang bertentangan dengan Islam itu sendiri. Mereka dipaksa oleh pemerintah untuk menyatu dalam sebuah negeri Budha tanpa mendapatkan kompensasai yang layak, bahkan sampai dipasung kebebasannya untuk melaksanakan ajaran agama Budha. Tentu saja, hal ini menyebabkan keinginan masyarakat muslim di wilayah selatan untuk melepaskan diri dari pemerintahan Thailand. Sementara pemerintah Thailand menghadapinya dengan tindak kekerasan.

Perkembangan selanjutnya, nama Pattani telah menjadi sebutan bagi seluruh wilayah muslim di Thailand selatan, tidak lagi menjadi sebuatan sebuah propinsi di Thailand. Pattani telah menjadi lambang perjuangan umat Islam. Persengketaan antara penduduk muslim dan pemerintahan Thailand itu terus memanas hingga dekade 70-an. Pembunuhan dan berbagai tindak kekerasan lainnya sering dialami oleh para aktivis Islam. Hal ini menimbulkan munculnya berbagai organisasi yang berhaluan keras menuntut kemerdekaan Pattani, seperti Pattani United Liberation Organization (PULO), Barisan Nasional Pembebasan Pattani (BNPP), dan Barisan Revolusi Nasional (BNP). Akhir-akhir ini, situasi pertentangan Muslim dan pemerintah Budha Thailand mulai mereda. Pemerintah telah melakukan beberapa perubahan sikap terhadap umat Islam dari selalu curiga dan menekan, menjadi lebih terbuka, bersamaan dengan perubahan iklim demokratisasi Thailand. Tindakan-tindakan kekerasan telah berkurang dan bahkan umat Islam telah diikutsertakan dalam pemilu dan juga menempatkan wakilnya secara proporsional di parlemen.

Namun, pertentangan masih tetap ada, karena selalu saja ada perbedaan cara pandang antara kedua pihak. Organisasi-organisasi Islam masih tetap ada. Sayangnya, di antara mereka terdapat pengelompokan yang menyebabkan terhambatnya perjuangan Islam di Thailand. Kelompok modernis memiliki cara perjuangan yang berbeda dengan kalangan tradisional. Demikian pula kelompok yang berada di antara keduanya. Memang  jalan perjuangan yang terbentang selalu ditaburi oleh “duri-duri”. Thailand Selatan adalah salah satu sudut dunia Islam yang mencoba mengembalikan kejayaan Islam di masa lalu dengan menghalau segala “duri-duri” yang menghadang. Muslim di Thailand Selatan memiliki identitas etnis dan agama yang berbeda dengan mayoritas penduduk (dan juga pemerintah) Thailand. Muslim memiliki bahasa Melayu dan beragama Islam, dua identitas budaya dan agama yang menjadi bagian dari Bangsa Pattani. Mereka selama ratusan tahun terbentuk dalam Kerajaan Islam Pattani.

Masjid di Thailand

Menurut Kantor Statistik Nasional Thailand pada tahun 2007, negara ini memiliki 3.494 masjid, dengan jumlah terbesar (636) di provinsi Pattani. Menurut Departemen Agama (RAD), 99% dari masjid yang berhubungan dengan Sunni cabang Islam Syiah dengan sisa 1%.

 4Central Pattani Mosque

 5

Kerisek Mosque

Masjid yang menjadi lambang Islam, yaitu Masjid Pintu Gerbang atau disebut juga Masjid Kerisek. Masjid ini di berada depan pintu gerbang Istana Negara dengan lebar 15,10 meter, panjang 29,60 meter dan tinggi 6,5 meter. Tentara Thailand pernah membakar masjid bersejarah ini sebanyak tiga kali, namun hingga sekarang masih bisa bertahan. Masjid Pintu Gerbang ini menjadi penghulu masjid-masjid lainnya di Thailand selatan yang jumlahnya sekitar 1.395 (tahun 1987).

Pada tahun 1935 masjid Pintu Gerbang diangkat menjadi situs negara dan dilarang untuk dijadikan sebagai tempat ibadah. Tentu saja umat Islam tidak mau menerima keputusan pemerintah tersebut. Berbagai upaya terus dilakukan, hingga demonstrasi besar-besaran pada tahun 1988 menuntut agar masjid lambang umat Islam tersebut diizinkan dijadikan tempat ibadah kembali. Hasilnya, pemerintah memutuskan bahwa masjid tersebut tetap menjadi situs negara, tetapi boleh dijadikan sebagai tempat ibadah.

Masjid lain yang menjadi syiar Islam di Thailand adalah Masjid Shalahudin Al Ayubi dan Masjid Kulusei. Masjid Shalahudin Al Ayubi adalah sebuah masjid yang terletak di Nahofi. Arsitektur bangunan masjid ini memiliki kesamaan dengan masjid Madinah dengan dihiasi menara setinggi kira-kira 25 meter. Nama Shalahudin Al Ayubi diambil untuk mengenang kemenangan beliau sebagai panglima Islam dalam Perang Salib pada abad ke-12 M.

Sedangkan Masjid Kulusei adalah sebuah masjid yang menyimpan legenda. Pada abad ke-16 M, masjid ini dibangun oleh seorang China Budha yang kemudian masuk Islam. Sebelum masuk Islam, ia pernah bernadzar bahwa jika dirinya masuk Islam, maka ia akan membangun sebuah masjid. Namun masjid ini hingga sekarang pembangunannya tidak rampung, disebabkan adanya persengketaan antar keluarga dan antar suku yang cukup serius.

 Dakwah Islam

Apabila kita mendatangi masjid-masjid di Thailand, kita akan menyadari bahwa banyak kemiripan kehidupan muslim di Thailand dan Indonesia. Mayoritas muslim di Thailand adalah sunni bermazhab Syafi’i. Dan secara umum, mereka mirip sekali dengan kaum Nahdliyin yang ada di negeri kita. Dengan mudah kita temui acara dzikir berjama’ah , nasyid, dan berbagai macam shalawat. Setiap masjid pun biasanya memiliki kyai yang diagungkan di situ.

Selain itu, dari kalangan pemuda (kebanyakan mahasiswa) banyak yang rajin menuntut ilmu di manhaj salaf. Mereka cukup rajin mengadakan kajiankajian ilmiah di masjid walaupun terkadang bertentangan dengan pengurus masjid itu sendiri. Meskipun mereka berhadapan dengan terbatasnya pustaka yang dapat mereka akses (karena tidak semua bisa berbahasa Arab), namun mereka sangat bersemangat untuk menegakkan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih. Mereka pun menampakkan ke-Islam-an mereka dengan terang-terangan. Mereka memelihara jenggot, tidak isbal, bahkan di kampus pun kita terkadang bisa menemui saudari kita yang bercadar.

Kehidupan Muslim Thailand

Mata pencaharian sebagian besar muslim Thailand adalah nelayan dan petani. Laut adalah merupakan harta karun bagi mereka. Kesederhanaan dan kejujuran mereka menjadi modal utama untuk bisa menciptakan kehidupan yang tenteram dan bahagia.

Chularatchamontri (Thai: จุฬาราชมนตรี) adalah judul penasihat utama Mulia pada urusan Islam. Gelar itu digunakan di Ayutthaya Raya ketika Raja Songtham (1611-1628) menunjuk Sheikh Ahmad ke kantor. Dewan Nasional yang modern bagi umat Islam, yang terdiri dari setidaknya lima orang (semua Muslim) dan diangkat oleh kerajaan proklamasi, menyarankan kementerian pendidikan dan interior pada masalah-masalah Islam. Pejabat ketua, konselor negara untuk urusan Muslim, ditunjuk oleh raja dan memegang kantor kepala divisi di Departemen Agama di Kementerian Pendidikan. Dewan provinsi untuk urusan Muslim ada di provinsi-provinsi yang memiliki minoritas Muslim yang cukup besar, dan ada link lainnya antara pemerintah dan komunitas Muslim, termasuk bantuan keuangan pemerintah kepada lembaga-lembaga pendidikan Islam, bantuan pembangunan beberapa masjid besar, dan pendanaan dari ziarah oleh Muslim Thailand ke Mekah, baik Bangkok dan Hat Yai menjadi kota gerbang utama.

Thailand juga mempertahankan beberapa ratus sekolah Islam di tingkat dasar dan menengah, serta bank syariah, (Pattanakarn, Bangkok), toko-toko dan lembaga lainnya. Banyak makanan kemasan dipasarkan diuji dan diberi label halal. Belakangan ini, muslim di Thailand malah ‘memimpin’ untuk persoalan label halal dibanding dengan negara tetangga. Pada tahun 1995, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Chulongkorn University, membangun sebuah penelitian yang khusus bertujuan untuk membedakan mana makanan yang halal dan yang haram. Program dengan nama ‘The Halal Science Center’ ini digagas oleh Prof Winai Dahlan. Metode pemberian label halal yang digawangi oleh The Halal Science Center ini, malah menyita perhatian negara lain, yang mayoritas beragama Islam. Pasalnya, ‘The Halal Science Center’ mengembangkan pelabelan dengan pendekatan teknologi. Salah satu contohnya, ‘The Halal Science Center’ menerapkan aplikasi scanning barcode, yang bisa dilakukan warga menggunakan tablet ataupun smartphone. Jadi, pihak ‘The Halal Science Center’ menyediakan software gratis untuk pemindaian label yang bisa didownload oleh siapapun. Setelah dilakukan pemindaian, maka nanti di gadget akan muncul profil dari makanan terkait. Mulai dari siapa produsennya, batas akhir waktu konsumsi dan tentunya kepastian kehalalannya. Dengan teknologi ini, maka menutup ruang terjadinya penipuan. Pada tahun 2006, Malaysia langsung melalui perdana menterinya Abdullah Ahmad Badawi memberi anugerah ‘Best Innovation in Halal Industry’ kepada ‘The Halal Science Center’. Pada tahun 2009, penghargaan serupa didapatkan dari Filipina. Lalu di 2011, Malaysia kembali memberi penghargaan dengan titel ‘Halal Research Summit’.

Editor : Gestin Mey Ekawati/25072013

Sumber :

Dari artikel ‘Kehidupan Islam di Negeri Gajah Putih — Muslim.Or.Id

http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Thailand

http://www.bisosial.com/2013/02/proses-masuknya-agama-islam-ke-thailand.html

http://senyumislam.wordpress.com/2013/03/05/geliat-islam-di-thailand/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s