Ujian Allah

UJIAN

Disadur  dari : Hikmah

Sesungguhnya Allah mengujimu di titik-titik kelemahan yang ada pada dirimu

Seluruh hidup ini merupakan Ujian-Ku untukmu. Kesedihan, kesusahan, kesenangan, pun kebahagiaan. Temukanlah butir-butir pelajaran yang ingin AKU sampaikan dan ajarkan kepadamu, yang bertaburan namun tersembunyi di balik ini semua…

Bila kau merasa tak sabar dan tak bersyukur atas segala yang Kutentukan untukmu, baik itu kesedihan-kesedihanmu, kesusahan-kesusahanmu, kesenangan-kesenanganmu, kebahagiaan-kebahagiaanmu, maka sesungguhnya kaulah yang telah menjauhi AKU dan Ampunan-Ku…

Keluhan, kesal, marah, iri, dendam, su’udzon, dan semacamnya, merupakan  tanda-tanda   ke-tidak sabar-anmu dan ke-tidak syukur-anmu kepada-Ku. Karena segala sesuatu yang  hadir dalam hidupmu,  adalah sesuai dengan Ketentuan dari-Ku…    

Segala hidupmu adalah untuk mengabdi kepada-Ku. Karena itu, jadilah kau abdi-Ku,  dan bukan abdi dari nufuwsul hawiyah / hawa nafsu dan syahwat (nafs-nafs yang mungkar  terhadap-Ku), dan bukan pula abdi dari syetan. Abdi-Ku yang baik adalah dia yang MENGENAL AKU (Ma’rifat kepada-Ku)…

Berprasangka baiklah (HUSNUDZON-lah) engkau terhadap segala yang telah Kuhadirkan dalam hidupmu. Jangan mengeluh dan jangan kesal. Jangan merutuk. Sebab kesedihan-kesedihanmu, kesusahan-kesusahanmu, adalah juga TANDA KASIH-Ku kepadamu…Maka, manakah rasa syukurmu itu?…

Sabar dan syukur adalah pasangan yang tak bisa dan tak akan pernah bisa dipisahkan. Sabar dan syukur adalah bentuk HUSNUDZON kepada Allah Ta’ala Sang Pencipta.  Dan HANYA dengan (selalu) ber-HUSNUDZON terhadap segalanya yang telah DIA hadirkan dengan SENGAJA ke dalam kehidupan inilah, maka butir-butir Pelajaran yang ingin DIA  sampaikan dan ajarkan akan dapat ditemukan dan dipahami.

Hidup adalah Ujian. Dan ujian adalah Ranjau Cinta dari Sang Pemilik Cinta. Jika kita tak merasakan bahwa seluruh liku-liku hidup ini — baik itu kebahagiaan, TERUTAMA kesedihan dan kesusahan — adalah sesungguhnya (Haqiqatnya) merupakan perwujudan  Cinta-Nya, maka HATI-HATI-lah ! Sebab, itu pertanda / gejala bahwa kita tanpa sadar  telah ber-BURUK SANGKA (su’udzon) kepada-Nya Sang Penentu dan Cinta Sejati, dan buruk  sangka (su’udzon) ini telah menjauhkan kita dari Pelukan Maghfirah-Nya.

Sabar dan syukur yang Sejati (yang sebenarnya) adalah yang di dalam dada (qalbu). Bukanlah rasa sabar yang di-sabar-sabar-kan, bukan pula rasa syukur yang di-syukur-syukur-kan. Sabar dan syukur yang Sejati itu adalah PEMBERIAN-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka, memohonlah kepada-Nya akan sabar dan syukur yang Sejati ini. Memohonlah kepada-Nya, Sang Empunya…Memohonlah…Kesabaran itu TAK ADA batasnya. Bila terbatas, maka hal itu BUKANLAH SABAR. Teruslah berjuang untuk bisa sabar dan selalu bersyukur dalam qalbumu, dan bukanlah  sekedar di lidahmu. Teruslah berjuang…Janganlah berputus asa.

Di antara ciri-ciri sabar dan syukur yang Sejati itu, adalah : tidak mengeluh, tidak kesal, tidak mudah tersinggung, dan senantiasa berpikir bijak. Dada (qalbu)-nya hijau,  bagai syurga yang mengalirkan sungai-sungai Pengetahuan akan DIA.

Segala sesuatu yang Allah Ta’ala Sang Maha Suci hadirkan ke dalam hidup kita ini, adalah SESUAI dengan porsi (kemampuan) yang kita miliki.

Tak pernah dan tak akan pernah DIA memberikan segala UJIAN ini melebihi porsi dari masing-masing diri.  DIA tak pernah sedzarrahpun mendzalimi Ciptaan-Nya. Bahkan sesungguhnya…  kita sendirilah yang (sangat sering) mendzalimi diri kita    ini — disadari ataukah tidak —  dengan mengeluh, kesal, su’udzon (berprasangka/ berpikir buruk terhadap orang lain,  ataupun kejadian-kejadian yang berlaku), dengki,   dendam, dan semacamnya. Maka…  manakah rasa syukur kita itu?…

Betapa seringnya kita semua terlelap dalam menghitung dan mencari kesalahan-kesalahan  orang lain, bahkan pula tenggelam dalam menyalahkan suatu fenomena kejadian. Lupa bahwa diri ini sendirilah yang sesungguhnya LEBIH HARUS DIPERBAIKI dan DIHISAB.  Bukannya orang lain atau hal-hal di luar diri  kita sendiri !   Dan lupa bahwa Allah-lah Sang Penentu Jalan Hidup ini dengan berbagai fenomena (kejadian)-nya. Maka…  manakah KETUNDUKAN dan KETAATAN kita kepada-Nya ?…

Hidup ini adalah Ujian. Dan dalam setiap Ujian terdapat Butir-Butir Pelajaran dari-Nya Sang Maha ‘Ilmu dan Maha Mengajarkan.  Butir-Butir Pelajaran itulah yang HARUS SENANTIASA bisa ditemukan, diolah, dan dipahami  oleh setiap individu. Karena hanya dengan cara itulah kita akan bisa merasakan Kedekatan-Nya dan Kehadiran-Nya dalam tiap detik hidup ini. DIA menguji dan mengasah setiap diri pada titik-titik kelemahan masing-masing. Mengapa ?

Agar qalbu dan nafs (jiwa) sang hamba menjadi tegar, sabar, tidak cengeng, bijak, halus dan lembut, sehingga sedikit demi sedikit dapat melangkah menuju Shirath Al-Mustaqiim, sebuah jalan yang lurus, namun terjal dan mendaki, yang juga merupakan Jalan Sejati untuk bisa sampai kepada-Nya (dengan selamat). DIA-lah Sang Jamal dan Sang Jalal itu. Maka cari dan temukanlah DIA dalam seluruh sisi-sisi kehidupan kita, baik sisi yang jamal” (kesenangan, kekayaan, keindahan, kemanisan, keceriaan dan kebahagiaan), dan TERUTAMA di sisi kehidupan yang “jalal” (kesusahan, kesedihan, kepedihan, kejelekan,  kepahitan dan kesengsaraan). Maka… DIA-lah Sang Cinta Sejati dan Al-Hadi…Setiap tarikan nafas semakin mendekatkan kita kepada sang ajal. Maka…  teruslah kita berjuang dalam mengasah diri, dalam mensucikan qalbu, dalam   mendewasakan nafs (jiwa), agar Kata-Kata (Petunjuk dan Pelajaran) dari-Nya dapat  ditemukan, dicerna dan dipahami.

Janganlah terlena dalam ke-buruksangka-an dan kekesalan, janganlah tenggelam dalam    ego dan keluhan. DIA-lah Yang Nyata…DIA-lah Yang Dekat…Sangat dekat… Hidup = Ujian = Ranjau Cinta dari Sang Cinta Sejati dan Maha Suci. Leburkanlah ego (keakuan, keangkuhan, harga diri, kehendak) kita ke dalam Sang Al-Khabir.  Karena ego itu merupakan salah satu dari sekian banyak HIJAB yang menghalangi jalan  (Pengetahuan dan Pengenalan akan DIA) untuk bisa kembali dan sampai kepada-Nya Sang Al-Haqq. Dan hanya DIA-lah Satu-Satunya Yang pantas untuk memiliki semua ego-ego  itu.

Sesungguhnya Tanda-Tanda (Ayat-Ayat)-Nya sangatlah nyata dan bertebaran di seluruh  liku kehidupan ini. Ada yang tersembunyi (bathin / tersirat), ada pula yang mudah untuk diketahui dan dipahami (dzahir / tersurat). Karena DIA itu Sang Jalal, namun juga Sang Jamal. Dan karena DIA itu Sang Bathin, namun juga Sang Dzahir. DIA-lah Sang Maha Segala-galanya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s