Jangan merendahkan orang lain….

Sudah lama aku tidak menulis….dan rasanya pengen menulis lagi…aku mendapat pelajaran berharga saat aku di rumah.. aku sudah resign dari pekerjaanku tanggal 30 April 2011 yang lalu, padahal aku bekerja baru 6 bulan lamanya… mungkin banyak orang menyayangkan kenapa aku resign di saat orang2 mencari2 pekerjaan… mungkin banyak orang menyayangkan kenapa aku resign padahal aku sudah cukup baik bekerja sebagai konsultan di perusahaan minyak… mungkin banyak orang tidak sepaham denganku…tapi ini keputusanku…aku sudah memilih dan aku siap dengan konsekuensi yang ada….

“Wish that this decision is right…release the moon in hand to reach the stars in the sky…is it possible?…be optimistic…if the failure is coming, believe that there is the best way to conquer it. Allah is always by our side. Allah will provides simplicity in every difficulty…InsyaAllah….”

Pelajaran berharga pada bulan ini aku dapat dari ingatan beberapa kejadian di waktu lalu dan saat ini. sudah hampir 5 tahun berlalu sejak kejadian2 itu terjadi. bagiku itu cukup menyakitkan tapi ternyata ada hikmah dibalik itu. bulan mei 2006 aku berjuang di akhir2 SMA aku…aku berjuang untuk lulus SMA dan berjuang untuk meraih mimpiku memasuki perguruan tinggi negeri. saat itu apa yang aku butuhkan dari orang2 sekitarku? aku hanya butuh dukungan dari mereka. 

Alhamdulillah aku bisa lulus SMA dengan nilai cukup memuaskan. Namun saat PMDK ke UGM gagal karena aku telat memasukkan persyaratannya dan juga saat UM UGM memilih kedokteran sebagai tujuan utama juga gagal. Hati ini sungguh hancur…aku memang tak memilih perguruan tinggi selain itu karena aku cuma ingin memasuki universitas di antara UGM, ITB atau UI. Hanya tinggal 1 kesempatan memasuki perguruan tinggi negeri yaitu lewat SPMB, aku sangat berharap untuk itu. Aku terus berdoa. Aku ingin memilih kedokteran atau farmasi karena aku sangat berminat dengan jurusan2 tersebut.

Detik-detik menuju SPMB adalah saat yang menentukan dan mencemaskan bagiku. Cukup banyak godaan yang menghantui pikiranku. Aku ingat ucapan2 buruk itu…ucapan merendahkan dan menyakitkan dari saudara2ku terutama pakdhe, nenek, paman, serta budheku. apakah mereka masih ingat bagaimana mereka membuat aku “down” di saat aku butuh dukungan? bahkan ibukupun ikut2an membuat aku lemah. hanya ayahku yang terus membuat aku kuat.

pakdheku bilang “mana mungkin ortuku bisa menyekolahkanku?”….”apa punya uang? paling punya utang banyak….bisa2 ortuku tidak makan”….”mana mungkin aku bisa ketrima di universitas negeri?”…

budheku pun saat itu ke rumahku, bukannya untuk memberi motivasi tapi malah memberi rambu2 agar aku mengurungkan niatku kuliah karena itu akan menghabiskan uang yang banyak dan aku juga belum tentu keterima.

nenekku ikut2an datang ke rumahku dan bilang, “aku cuma bisa membuat ortuku susah karena aku pengen kuliah dan cuma ngabisin uang ortuku”…..

pakdheku yang lain dan pamanku juga ikut2an, ngomong ke ayahku, “biaya kuliah itu tinggi apalagi kalau tidak punya tabungan, gak akan bisa”.

Ibuku mulai terpengaruh dan tidak menyetujuiku buat ambil kedokteran. bahkan ibuku bilang dan becanda, “mending nikah aja ma anak teman ibuku yang sudah mapan, bermobil dll”.  hanya ayahku yang mendukungku untuk tetap kuliah. sudah puaskah mereka membuatku terpuruk dengan kata2 buruk mereka.. aku hanya bisa menangis di hamparan sajadah ini, menengadah berdoa agar Allah memberi petunjuk yang terbaik buat aku dan keluargaku. aku cuma ingin membuat ortuku bangga.

kenapa mereka meremehkan orang tuaku, meremehkan aku…padahal aku yakin orang tuaku memiliki kemampuan untuk membiayai kuliahku…kenapa mereka sejahat itu…merendahkan orang lain padahal mereka tidak mengetahui detail tentang aku dan keluargaku.

Sampai suatu waktu aku diberi kesempatan oleh Allah bertemu dengan kakak kelas SMA yang kuliah di ITB. Mungkin ini menjadi awal petunjuk dari segala kebimbanganku selama ini dan jawaban atas doa2ku pada Allah. Kakak kelasku itu bercerita tentang ITB. aku dari dulu ingin ke ITB tapi aku takut tidak diterima di sana dan kakak kelasku itu memberi dukungan padaku. Saat itu aku jadi semangat lagi, ayahku makin mendorongku. Ayahku cuma ingin melihat aku kuliah, apapun yang aku pilih ayahku tetap mendukungku. Aku bilang pada Ibuku, aku nggak jadi ambil kedokteran dan aku memutuskan untuk memilih ITB. Ibuku kaget tapi aku sudah bulat. Aku ingin masuk ITB, klo itu jodohku, aku akan mendapatkannya tapi jika tidak, aku akan mendapatkan yang terbaik buat aku. Allah tau yang terbaik buat hamba-Nya. Aku sangat bersyukur, masih ada orang tuaku dan sahabat2 SMA yang mendukungku di saat saudara2 dari ibu melemahkanku.

Aku sholat istikharah untuk menentukan fakultas apa yang akan aku pilih di ITB dan jawabanku adalah FIKTM yang sekarang dipecah menjadi FTTM dan FITB. Di fakultas itu terdapat jurusan teknik geofisika, perminyakan, pertambangan, dll…yang kesemuanya sangat berbeda jauh dengan jurusan yang aku idam2kan yaitu farmasi. Aku tak tau mengapa tapi batinku dengan yakin mengatakan bahwa aku harus memilih fakultas yang berbeda dengan pikiranku sebelumnya. Untuk pilihan ke-2 aku ambil Kimia Undip.

Aku belajar untuk SPMB di rumah dan menyempatkan diri nonton bola piala dunia 2006 sebagai penyemangat belajar, aku tidak mengambil les di bimbel. Aku yakin dengan apa yang aku lakukan dan aku yakin walaupun belajar sendiri, aku berharap mampu mendapatkan hasil yang baik. Aku mencoba fokus dengan apa yang aku jalani saat ini yaitu belajar. Aku coba lupakan apa kata orang, apa kata saudara2ku. Aku hanya yakin dengan janji Allah, Dia akan beri yang terbaik. Aku hanya ingin membuat bangga orang tuaku. Terima kasih ayah. Ayahku yang selama ini membuat aku kuat dan tak bosan menemaniku berkeliling mencari universitas.. Terima kasih ibu…atas doa2 tulusmu untukku…

Menjelang datangnya SPMB, aku ke solo bersama 3 sahabatku, mbak Norma, Dita, dan Lilik, Kami menginap di kosan mbak Ticko. Kami belajar bersama dan berharap kami bisa lulus. Saat SPMB pun tiba dan kami berupaya melakukan yang terbaik.

Agustus 2006, pengumuman SPMB tiba, Malam itu aku tidak beranjak dari rumahku di Giritontro di saat teman2ku sibuk mencari hasil pengumuman di internet…maklum di dekat rumahku tidak ada internet…hehe. Aku hanya yakin bahwa  Allah akan memberi yang terbaik.Aku sudah siap dengan keputusan yang Allah berikan. Aku menunggu koran besok paginya. Tetapi malam itu juga aku sudah tau hasilnya, karena dua orang temanku, Joko dan mbak Norma meneleponku dan memberi tau hasil SPMB itu. Alhamdulillah aku lolos dan diterima di ITB. Allah maha segala2nya….Dia mampu membuat sesuatu yang seperti mustahil bagiku tapi ternyata itu bisa jadi nyata. Dan aku tambah bahagia karena teman2ku juga berhasil lolos di universitas pilihan mereka masing2. Mbak Norma di UNS, Lilik di UI, Joko dan  Dita di Undip, Risang di UNS, Afi di Undip, dll. Terima kasih ya Allah…Ibuku langsung menangis penuh syukur…

Pagi harinya, ibuku membeli koran untuk memastikannya dan memang benar aku diterima di sana. Alhamdulillah. Pamanku ke rumahku dan bertanya apa aku diterima. Betapa kagetnya dia, ketika dia tahu aku diterima, Terlihat olehku, wajah ketidaksenangan-nya. Dia bilang, ya itu karena nasibmu baik, tin… hmm…apapun yang pamanku dan saudaraku katakan, aku tidak peduli…aku hanya ingin membuat orang tuaku bangga dan bahagia memiliki aku.

Aku dan ayahku mempersiapkan semua syarat2 untuk pendaftaran ulang ke ITB. Cukup pusing ketika kami harus mencari2 surat pemberitauan dari ITB bahwa aku diterima. Kami muter2 kantor pos…pak pos-nya lambat…maklum rumahku jauh dari Wonogiri,,,:-)….  Kami juga harus mencari info bagaimana kami bisa sampai Bandung. Tas travel besarpun, kami harus pinjam dari tetangga karena kami sekeluarga jarang bepergian jauh dan hanya punya tas travel tak terlalu besar. Rasanya sedih ketika aku harus berpisah dengan keluargaku. Benar2 berjuang untuk meraih mimpi…aku harus kuat….:-)… Kami naik bis kramat djati dari terminal Wonogiri. Sampai di terminal Caheum, kami naik taksi ke daerah Balubur dan kakak kelasku yang baik, mbak Yula & mbak Endar yang menyambutku. Mereka membantu kami mulai dari pendaftaran sampai mengantar kepulangan ayahku sore harinya. Terima kasih mbak2ku sayang….semoga mbak mbak selalu sukses…

Aku berusaha melupakan omongan saudara2ku itu walaupun itu tetap sulit. Tapi aku tetap bersyukur karena dengan cobaan2 itu, aku bisa maju. Dan saat ini, giliran sepupuku, anak pamanku yang gagal memasuki UNY lewat PMDK dan dia sekarang sedang berjuang mencari perguruan tinggi negeri. Semoga pamanku bisa belajar dengan apa yang terjadi di hidupnya sekarang. Walaupun saat ini, aku rasa beliau masih belum bisa belajar menghargai orang lain karena ucapannya sampai saat ini tetap menyakitkan. Pakdheku-pun belum berubah, masih tetap merendahkan aku dengan ucapan buruknya. Tapi kini nenek dan budheku yang mulai menjaga ucapannya dan lebih santun. Semoga mereka bisa belajar untuk tidak merendahkan orang lain.

Sebenarnya masih banyak hal yang aku alami ketika aku dan keluarga harus direndahkan orang lain….Teman2 pengajian Bani Mijono di Giritontro yang jahat padaku dan sampai saat ini juga masih teringat di benakku serta beberapa tetangga dan saudara yang dulu suka meremehkan kami ketika kami miskin. Masih ingatkah betapa kejamnya mereka dulu?…just a memory….

Merendahkan orang lain berarti menganggap bahwa orang lain itu buruk, dirinya-lah yang hebat dan itu merupakan suatu kesombongan. Apalagi kalau mereka hanya senang bercerita mengungkapkan kehebatannya pada orang lain. Sombong menceritakan harta2 yang dimilikinya, kepandaian yang dimilikinya kepada orang lain tanpa mau mendengarkan orang lain dan setiap ucapannya cenderung menyakitkan orang lain. Padahal tak satupun dari dalam diri kita, yang patut kita sombongkan karena apa yang kita miliki hanya titipan dari ALLAH.

“Tidak akan masuk surga orang yang hatinya terdapat seberat biji sawi dari sikap sombong. (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)“…

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujuraat 11)”…

Teman, aku ingin menulis ketika rasa di hati sudah tak bisa aku simpan…aku ingin bercerita walau aku rasa bukan suatu cerita yang menarik…aku tak ingin menyakiti orang lain…aku tak ingin merendahkan orang lain…dan aku mohon tolong jangan merendahkanku lagi…jangan buat orang lain sedih…bisakah kita hidup dengan lebih damai…saling mendukung satu sama lain….tanpa ada rasa iri….saling menolong……saling menyayangi dan menghormati dan berbagi cinta….hidup di dunia hanya sekali….bisakah kita gunakan sisa umur kita untuk meraih cinta-NYA, memberi yang terbaik buat hidup kita tanpa harus menyakiti orang lain….

Jangan pernah memandang rendah orang lain karena kita tidak akan pernah tau apa yang terjadi di esok hari…bisa jadi kita menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya…Jangan pernah menganggap diri kita hebat, karena Sang Maha Hebat hanya Allah SWT….Jangan pernah menyombongkan diri kita dengan apa yang kita miliki karena apa yang kita punya hanya titipan-NYA dan suatu waktu kita bisa kehilangan itu semua….Syukuri hidup kita….Yakini bahwa Allah selalu memberi yang terbaik buat kita….Ketika cobaan itu datang, yakinkah bahwa Allah akan selalu membantu kita. Tetap berjuang dan berusaha memberi yang terbaik untuk kebahagiaan hidup kita di dunia dan akhirat….dan tetap rendah hati….:-))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s