the lost of the trust

Mempercayai adalah meyakini akan sesuatu hal dengan sepenuh hati tanpa ada keraguan di dalamnya. Percaya mensyaratkan bahwa kita memiliki kerentanan terhadap orang lain (rentan terhadap pengkhianatan pada khususnya), menganggap baik orang lain dan selalu bersikap optimis terhadap mereka. Mempercayai itu penting tetapi juga berbahaya. Penting karena kita berhubungan dengan orang lain dan dalam hubungan itu entah hubungan cinta, persahabatan, kerja, ataupun yang lainnya diperlukan kepercayaan. Kepercayaan, percaya, mempercayai, dan dipercaya penting karena dengan unsur2 tersebut kebahagiaan, keharmonisan suatu hubungan bisa terjalin, tak akan ada rasa curiga, tak akan ada rasa salah sangka, tak akan timbul egoisme. Rasa percaya akan meningkatkan komitmen, menjaga semangat dan kinerja tanpa perlu adanya pengawasan dan monitor ketat. Dalam hubungan di mana rasa saling percaya kuat, maka kontribusi dan energi menjadi hemat, karena lebih sedikitnya upaya komunikasi. Individu yang saling percaya lebih mudah menemukan gelombang yang sama. Pentingnya begitu terasa terutama saat kita sudah berada dalam keadaan tidak dipercaya. Pada saat itulah kita betul-betul merasa bahwa kepercayaan itu tidak mudah didapat.
Berbahaya karena mempercayai memiliki resiko, resiko ketika penghianatan dari sebuah kepercayaan itu datang. Sebuah kondisi yang terkait atas kepercayaan adalah potensi penghianatan karena kondisi yang sesuai untuk dipercaya adalah kekuatan untuk mengkhianati. Jika kita sudah sangat mempercayai orang akan tetapi orang yang kita percaya ternyata menghianati kepercayaan yang kita berikan. Lalu apa yang kita rasakan? Kecewa? Apakah kita masih mampu untuk mempercayai-nya lagi? 

Mempercayai menjadi hal yang sulit ketika sudah berkali-kali merasa dikecewakan. Sudah berkali-kali berkata dan menjelaskan untuk tidak melakukan hal yang akan membuat kepercayaan itu luntur tapi berkali-kali pula tetap saja dilanggar dengan alasan yang sama…”tidak sadar bahwa sikapnya menyakiti dan menghilangkan kepercayaan dan kemudian mengatakan hati berbeda dengan sikap”…apakah hati akan terlalu kontra dengan sikap? menurutku tidak, bukankah sikap mencerminkan hati kita? Ketika hati kita bersih, maka sikap kita-pun tidak akan melenceng dari itu.
Kepercayaan identik dengan kejujuran. Kejujuran yang hilang akan membuat hilangnya kepercayaan. Tapi apakah orang yang tidak jujur identik dengan orang yang tidak bisa dipercaya?
Merenungkan sejenak….mencoba memaknai kehidupan di dunia yang singkat ini….apakah masih bisa diteruskan…membuka kesempatan untuk percaya lagi, untuk mempercayai ketika kepercayaan itu telah hilang?…jika iya bisa, itu takkan bisa sama seperti dahulu sebelum hilangnya kepercayaan itu karena kepercayaan ibarat seperti vas .. setelah vas itu pecah dan rusak, meskipun kita dapat memperbaikinya vas tidak akan pernah sama lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s