Aku & Pink-Ponk

Aku ingin bercerita tentang tiga kata “Aku dan PinkPonk”…. Pinkponk atau tenis meja menurut wikipedia adalah olahraga raket yang dimainkan oleh dua orang (untuk tunggal) atau dua pasangan (untuk ganda) yang berlawanan. Di RRC, nama resmi olahraga ini ialah “bola ping pong” (Tionghoa : 乒乓球; Pinyin : pīngpāng qiú). Permainan ini menggunakan raket yang terbuat dari papan kayu yang dilapisi karet yang biasa disebut bat, sebuah bola pingpong dan lapangan permainan yang berbentuk meja. Raket terbuat dari lapisan kayu tipis yang pada permukaannya dilapisi karet khusus. Ukuran panjangnya adalah 6.5 inchi (16.5 cm) dan lebar 6 inchi (15 cm). Lapisan tipis ini bisa di tambahkan lapisan fiber glas, karbon atau bahan lain sehingga bat menjadi ringan dan tahan getar. Bola tenis meja berdiameter 40 mm berat 2,7 gram. Biasanya berwarana putih atau orange dan terbuat dari bahan selluloid yang ringan. Pantulan bola yang baik apabila dijatuhkan dari ketinggian 30,5 cm akan menghasilkan ketinggian pantulan pertama antara 24-26 cm. Pada bola pingpong biasanya ada tanda bintang dari bintang 1 hingga bintang 3, dan tanda bintang 3 inilah yang menunjukan kualitas tertinggi dari bola tersebut yang biasanya digunakan dalam turnamen-turnamen resmi. Lapangan yang kecil yaitu berbentuk meja dengan panjang 274 cm dan lebar 152.5 cm membuat permainan ini cukup gampang, cukup ringan, dan tidak melelahkan karena tidak seperti olah raga yang lain yang harus berlari-lari.

Sampai saat ini aku selalu menganggap “pinkponk” adalah olahraga yang tidak bisa tergantikan dalam hidupku. Aku sangat menyukai olahraga ini. Sejak kecil, tepatnya kelas 4 SD, aku sudah belajar pinkponk. Selain diajarin oleh ayah dan ibuku, guruku olahraga SD-ku jg mengajariku. Dulu hampir setiap hari aku bermain pinkponk. Sebelum ayahku membeli meja pinkponk untuk di rumah, aku belajar pinkponk di SD setiap jam istirahat dan setiap sore hari. Rasanya menyenangkan bermain pinkponk, tidak butuh waktu lama untuk mempelajarinya. Sebenarnya butuh ketelatenan dan kerajinan dalam berlatih teknik-tekniknya dan tentunya bakat juga diperlukan untuk menunjang itu semua.

Kelas 5 SD aku ikut PORSENI, lomba olahraga dan seni tingkat kabupaten Wonogiri mewakili Kecamatan Giritontro setelah melewati tahap seleksi di kecamatan. Aku mewakili daerahku bersama temanku, Nur, Rofiq, Beni, dan Alm.Joko. Akan tetapi, sampai di Wonogiri, kami semua kandas, tidak ada yang mendapatkan juara. Untuk diriku sendiri, aku dipenuhi kegugupan sebelum bertanding, sepertinya keminderan menyelimuti diriku, sampai-sampai aku sakit perut dan mau muntah saat tiba di lokasi pertandingan. Akhirnya aku kalah dengan mudah. Tahun berikutnya, aku masih ikut mewakili lomba PORSENI karena aku masih menjadi unggulan di daerahku…lebai jadinya…hehehe.. Tetapi, lagi-lagi performa di kancah kabupatenku sangat buruk..karena kegugupanku sendiri itu…hahaha… Akhirnya aku kalah lagi tetapi kalahnya tidak semudah tahun sebelumnya, jadi ada peningkatan lah ya…:-)…

Saat di sekolah yaitu SMP dan SMA, aku sudah tidak lagi memainkan pinkponk. Sekolah tidak memfasilitasi untukku bermain pinkponk. Mainnya cuma voli, lari, senam saja. Aku baru bermain pinkponk lagi di rumah bersama dengan ayah atau ibuku. Ayahku paling jago, aku selalu kalah dengan beliau. Kalau Ibuku, beliau jago juga tapi, kadang aku masih bisa mengalahkannya. Ayahku pintar ”smash” sedangkan ibuku jago ”backhand”. Kalau aku?? sepertinya lebih mirip ke ibuku…:-)

Pas masa kuliah itu tiba, aku merasa sedikit kehilangan hobiku untuk bermain pinkponk. Karena harus jarang bertemu ortuku untuk bermain pinkponk bersama dan tidak menemukan tempat yang nyaman buat bermain pinkponk. Penyesalam memang selalu di akhir ya. Saat ini aku menyesal kenapa ya waktu kuliah, aku tidak ikut unit tenis meja..sepertinya aku disibukkan dengan hal-hal tidak penting….:-((. Tingkat 1 kuliah yaitu masa-masa TPB di semester 2, ada pelajaran olahraga dan disuruh memilih olahraga apa yang disukai. Aku memilih pinkponk, setidaknya hobiku main pinkponk tersalurkan sekali dalam seminggu. Ya lumayanlah. Aku sangat menikmati olahraga pinkponk dengan bermodal bat Rp 55.000,00 yang aku beli dari Gramedia. Ternyata dosen olahragaku sangat menyukai permainanku dan aku mendapat nilai yang tinggi. Aku mengalahkan teman2ku dengan skor yang cukup telak dan di kelas pinkponk itu aku menang terus, sampai temanku minta aku ngajarin mereka. Ada beberapa temanku yang jago juga sih. Yang aku ingat, di kelas itu aku jadi deket ma temanku dari Malaysia namanya Syazni, dia jurusan Farmasi. Ada suatu moment tepatnya moment UTS yang mengharuskan mahasiswa lari keliling lapangan sabuga 6 kali, aku dibolehkan untuk tidak ikut karena nilaiku dari pinkponk sudah tinggi. Wah senangnya…soalnya aku tidak suka lari…:-)). Setelah tingkat 1 itu, aku tidak lagi rutin bermain pinkponk….sedih….Sering sebenarnya dari tahun ke tahun semasa aku kuliah, ada selebaran tentang turnamen pinkponk tetapi dari dulu aku merasa sangat tidak pede. Karena aku merasa tidak rutin bermain dan tidak latihan, pasti aku akan kalah…ya itu artinya aku menyerah kalah sebelum bertanding. Cara pemikiran yang salah karena dibubuhi dengan krisis kepercayaan diri.

Waktu di tingkat 3 kuliah, aku melihat ada selebaran di papan pengumuman kampus. Kubaca selebaran itu, wuih….isinya sangat menarik yaitu tentang adanya turnamen pinkponk di kampusku. Baru terketuk hatiku saat tingkat 3 kuliah itu. Aku dan beberapa temanku diajuin. Tapi saat itu aku sudah tidak niat gitu. Kalah bertanding terus kalah WO juga…huuuaaa…

Akhirnya di tingkat 4 kuliah, mimpiku terwujud. Aku memberanikan diri untuk ikut turnamen pinkponk antar jurusan se-ITB. Awalnya aku sudah tidak pede tapi aku berpikir nggak ada salahnya mencoba kan. Kalaupun kalah, juga tidak apa2 anggap turnamen ini sebagai ajang bermain dan penyaluran hobi saja. Tak perlu memikirkan menang dan juara, yang penting aku bermain dan menikmatinya. Aku tidak latihan dulu sebelum bertanding karena kurangnya sarana penunjang. Aku hanya membawa diriku untuk ikut turnamen berbekal bat Rp 35000,00 yang baru dibeli dari Borma dan arahan ayahku waktu aku telpon setiap aku mau bertanding. Mencoba mengaplikasikan apa yang ayahku katakan tentang teknik yang harus aku pakai untuk menghadapi lawan2ku. Aku mengikuti setiap pertandingannya, mencoba menikmati dan aku meraih tiap kemenangan di pertandinganku. Akhirnya di hari yang menentukan itu, di final itu dengan dihadiri temen2ku sejurusan sebagai motivatorku, aku berlaga dengan penuh kepercayaan diri. Akhirnya aku berhasil menjadi juara 1 UATM Cup Se-ITB setelah di final mengalahkan teman dari jurusan matematika. Alhamdulillah banget ya Allah. Aku nggak menyangka aku bisa menang.

Belajar untuk tidak kalah sebelum bertanding, tumbuhkan kepercayaan diri bahwa kita juga mampu melakukan yang mungkin kita pikir kita tidak bisa, dan percaya bahwa kekuasaan Allah itu sangat luas…karena dengan rahmat-Nya, kita bisa meraih hal yang sebelumnya hanya bisa menjadi mimpi.

Luar biasa !!!!!!…..baru merasakan anugerah bermain pinkponk setelah hampir 12 tahun mengenalnya…..aku & pinkpok….:-))…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s